Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Banyak Warga Menentang Pembangunan Kuburan di Jepang

Kuburan itu rencananya akan dibuka di atas tanah seluas 8.000 meter persegi di pegunungan Hide Town, Perfektur Oita.

Banyak Warga Menentang Pembangunan Kuburan di Jepang
Ist
Beberapa lokasi tanah di Tokyo dipasangkan papan bertuliskan menentang penggunaan tanah untuk kuburan. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Warga Jepang banyak yang mengajukan petisi keberatan pembangunan kuburan bagi umat Islam dan baru-baru ini terjadi lagi di perfektur Oita.

"Dengan kekurangan kuburan nasional bagi umat Islam untuk menguburkan tubuh mereka setelah kematian, rencana sedang dilakukan untuk membangun kuburan di Hide-cho, Perfektur Oita, tetapi petisi terhadap penduduk setempat sedang dikumpulkan untuk menentang pembangunan kuburan muslim tersebut," ungkap sumber Tribunnews.com Rabu ini (16/9/2020).

Kuburan itu rencananya akan dibuka di atas tanah seluas 8.000 meter persegi di pegunungan Hide Town, Perfektur Oita.

Umat Muslim menguburkan tubuh mereka karena alasan agama. Olehkarena hanya ada sedikit kuburan di Jepang yang menerima penguburan, sebuah kelompok Muslim di Kota Beppu, Perfektur Oita membeli tanah tersebut dan meminta izin kepada kota untuk membuka kuburan.

Menanggapi hal tersebut, warga di dua distrik di sekitar lokasi yang direncanakan mengatakan, "Saya khawatir drainase dari kuburan akan mengalir ke air pertanian dan air minum, oleh karena itu kami menandatangani petisi menentangnya dengan tanda tangan lebih dari 100 orang."

Mereka telah menyerahkannya ke kota dan dewan kota pada tanggal 15 September 2020.

Kiyotaka Eto yang mengusulkan pengajuan petisi mengatakan, "Konon pemeriksaan kualitas air akan dibatalkan jika ada masalah. Tapi kalau itu sampai terjadi pasti sudah terlambat setelah terjadi masalah. Oleh karena itu sebelum terjadi masalah kami menentangnya."

Khan Muhammad Tahil Abbas, presiden Masjid Muslim Beppu, yang memajukan rencana tersebut, berkata, "Saya telah menjelaskan bahwa pemakaman diadakan di seluruh dunia, tetapi saya minta maaf karena banyak yang belum mengerti maka mencoba terus memberikan pengertian."

Dewan kota berencana untuk memberikan suara (voting) pada petisi di dewan reguler, yang dibuka pada tanggal 17 September besok.

Halaman
123
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas