Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Hari Guru Nasional

Selain Hari Guru Nasional, 25 November Juga Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Ini Sejarahnya

Secara internasional, 25 November ternyata juga diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Selain Hari Guru Nasional, 25 November Juga Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Ini Sejarahnya
via Kompas.com
Ilustrasi perempuan korban kekerasan - Secara internasional, 25 November juga diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. 

Langkah berani lainnya diwujudkan dengan inisiatif yang diluncurkan pada tahun 2008.

Terobosan itu dikenal sebagai UNiTE to End Violence against Women.

Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kekerasan pada perempuan.

Selain itu, juga untuk meningkatkan pembuatan kebijakan dan sumber daya yang didedikasikan untuk mengakhiri kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan di seluruh dunia.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Picu Lonjakan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Seluruh Dunia

Baca juga: Megawati Ancam Pecat Kader yang Lakukan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Sejumlah masa aksi saat melakukan demontrasi dalam mempringati hari perempuan sedunia di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020). Dalam aksi tersebut mereka menuntut pentingnya perubahan sistemik untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.
Sejumlah masa aksi saat melakukan demontrasi dalam mempringati hari perempuan sedunia di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020). Dalam aksi tersebut mereka menuntut pentingnya perubahan sistemik untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan. (Tribunnews/JEPRIMA)

Namun, jalan menuju anti kekerasan terhadap perempuan masih panjang di skala global.

Hingga saat ini, hanya dua dari tiga negara yang melarang kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara itu, 37 negara di seluruh dunia masih membebaskan pelaku pemerkosaan dari penuntutan, jika korban dan pelaku menikah.

49 negara saat ini tidak memiliki undang-undang yang melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga.

Mengapa kita harus menghapus kekerasan terhadap perempuan?

Kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu pelanggaran hak asas manusia (HAM) yang paling meluas, dilakukan terus-menerus, dan merusak di dunia saat ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas