Tenaga Medis dari 70 Rumah Sakit di Myanmar Mogok Kerja sebagai Bentuk Protes atas Kudeta Militer
Sejumlah staf rumah sakit di Myanmar berhenti bekerja pada Rabu (3/2/2021) untuk ambil bagian dalam "kampanye pembangkangan sipil."
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah staf rumah sakit di Myanmar berhenti bekerja pada Rabu (3/2/2021) untuk ambil bagian dalam "kampanye pembangkangan sipil."
Hal ini sebagai salah satu aksi pembangkangan terorganisir pertama terhadap militer setelah menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi.
Petugas kesehatan di 70 rumah sakit dan departemen medis di Naypyidaw, Yangon dan kota-kota lain mengatakan, mereka tidak akan bekerja di bawah rezim militer.
Mereka juga menuduh para jenderal menempatkan prioritas mereka sendiri di atas warga biasa selama pandemi.
"Kami menolak untuk mematuhi perintah apa pun dari rezim militer tidak sah yang menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati pasien kami yang malang," kata penyelenggara seperti yang dilansir The Guardian.
Sebuah halaman Facebook yang mengoordinasikan kampanye mengumpulkan hampir 150.000 pengikut hanya dalam 24 jam.
Baca juga: Protes Kudeta Militer Myanmar, Pengunjuk Rasa Pukul-pukul Panci dan Bunyikan Klakson
Baca juga: Tolak Kudeta Militer, Warga Myanmar Bunyikan Klakson dan Panci, Dokter Mogok Kerja
"Mereka tidak akan menghentikan gerakan ini sampai pemerintahan terpilih dipulihkan," kata Kyaw, seorang ahli bedah di rumah sakit umum Yangon Barat yang melakukan mogok kerja.
"Saya kesal karena berpisah dari pasien, tetapi saya tidak menyesal, mengetahui bahwa saya melakukan yang terbaik untuk membantu memerangi pandemi," katanya.
Ia menambahkan telah mengundurkan diri dari rumah sakit pemerintah tempatnya bekerja.
Para dokter lebih memilih merawat pasien di rumah mereka dan di klinik pribadi.
Federasi Serikat Mahasiswa Seluruh Burma juga mendesak pegawai pemerintah lainnya untuk mogok.
Tidak ada laporan tentang demonstrasi jalanan melawan tentara, tetapi kemarahan membara di antara publik, yang telah hidup di bawah rezim militer yang represif selama lima dekade.
Pada Selasa malam, dentang panci dan wajan menggema di seluruh kota utama Yangon, saat orang-orang turun ke balkon mereka untuk melakukan protes simbolis terhadap militer.
Di media sosial, banyak yang memasang foto profil merah untuk menandakan kesetiaan mereka kepada Aung San Suu Kyi.