Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Wabah Covid-19 di Kebon Binatang, Cagar Alam Harimau India Ditutup untuk Wisatawan

Cagar Alam Harimau India ditutup untuk Wisatawan setelah wabah Covid-19 dilaporkan terjadi di kebon-kebon binatang India dan kematian singa betina

Wabah Covid-19 di Kebon Binatang, Cagar Alam Harimau India Ditutup untuk Wisatawan
times of india
Ilustrasi. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI-T Pemerintah India telah memerintahkan penutupan sementara semua cagar alam harimau untuk pariwisata, setelah serentetan wabah Covid-19 di kebon binatang di seluruh negeri.

Otoritas Konservasi Harimau Nasional, sebuah lembaga di bawah kementerian lingkungan pemerintah, mengeluarkan perintahnya pada hari Senin (7/6) setelah kematian singa betina yang positif Covid-19 beberapa hari sebelumnya.

"Contoh terbaru dari hewan kebon binatang yang terinfeksi oleh Covid-19 sekali lagi menunjukkan kemungkinan besar penularan penyakit dari manusia yang terkena ke hewan liar yang ditangkap," kata perintah itu. "Penularan serupa juga dapat terjadi di cagar alam harimau,” katanya.

Disebutkan, semua cagar alam harimau harus ditutup untuk kegiatan pariwisata sampai pemberitahuan lebih lanjut untuk mencegah harimau dan satwa liar lainnya terinfeksi.

Data dari World Wildlife Fund (WWF), harimau adalah spesies yang terancam punah dan kurang dari 4.000 tersisa di Bumi.

Baca juga: India Catat 92.596 Kasus Baru Covid-19 Selama 24 Jam Terakhir

Beberapa ribu harimau hidup di cagar alam di India, yang populasinya telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat upaya konservasi termasuk perluasan tutupan hutan dan hukuman penjara karena membunuh hewan.

Wabah terbaru terjadi di Taman Zoologi Arignar Anna, juga dikenal sebagai Kebon Binatang Vandalur, di tenggara kota Chennai, kata pemerintah negara bagian Tamil Nadu dalam rilis berita.

Sejumlah singa Asia, spesies langka yang hanya berjumlah ratusan, telah menunjukkan gejala penyakit di kebon binatang.

Pada hari Kamis pekan lalu, seekor singa betina berusia 9 tahun, Neela, mati dengan menunjukkan gejala penyakit. Namun belum jelas apakah Covid-19 adalah penyebab langsung kematian hewan tersebut.

Petugas kebon binatang dan tim dokter hewan segera mengkarantina semua singa dan mulai merawat mereka dengan antibiotik.

Mereka telah mengambil sampel dari singa, harimau, dan mamalia besar lainnya untuk dikirim untuk pengujian, berharap urutan genetik dapat mengungkapkan jenis virus mana yang menginfeksi singa.

Baca juga: Kasus Covid-19 Ditemukan di Kebun Binatang Singa, Pemerintah India Minta Warganya Tidak Panik

Pemimpin Tamil Nadu, M K Stalin, mengunjungi kebon binatang pada hari Minggu lalu untuk meninjau situasi dengan sejumlah menteri dan otoritas satwa liar lainnya.

Stalin memerintahkan pejabat untuk memastikan semua staf kebon binatang dan pawang hewan menerima vaksinasi, dan untuk "memberikan pengobatan terbaik untuk singa yang terinfeksi," kata rilis tersebut.

Wabah ini terjadi menyusul delapan kasus positif di antara singa di kebn binatang Hyderabad Maret  lalu.

Wabah serupa juga telah dilaporkan di kandang singa di kebon binatang dan safari di Jaipur dan Etawah, kata rilis berita tersebut.

Sebagai tindakan pencegahan, Tamil Nadu menutup kebon binatangnya untuk pengunjung pada 20 April.

Baca juga: Vietnam Temukan Mutasi Virus Gabungan Varian India dan Inggris, Cepat Menular Melalui Udara

Peristiwa hewan terinfeksi juga terjadi di bagian lain dunia juga. Di New York, sejumlah harimau dan singa di Kebon Binatang Bronx dinyatakan positif Covid-19 pada April 2020 setelah menunjukkan gejala termasuk batuk. Mereka telah pulih.

Wabah Covid-19 baru-baru ini datang setelah gelombang kedua virus di India, yang dimulai pada pertengahan Maret dan memuncak pada awal Mei. Itu membunuh puluhan ribu orang, membuat jutaan orang sakit, membuat negara terguncang - dan menempatkan hewan pada risiko infeksi yang lebih besar juga, kata Nikolaus Osterrieder, dekan kedokteran hewan dan ilmu kehidupan di City University of Hong Kong. (Tribunnews.com/CNN/Hasanah Samhudi)

Ikuti kami di
Editor: hasanah samhudi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas