Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Moderna Jadi Vaksin mRNA Pertama yang Dapat EUA BPOM, Kenali Apa Itu mRNA

Vaksin yang baru saja memperoleh EUA dari BPOM itu, sebelumnya dikembangkan oleh raksasa biotech yang berbasis di Massachusetts, AS, menggunakan platf

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Moderna Jadi Vaksin mRNA Pertama yang Dapat EUA BPOM, Kenali Apa Itu mRNA
Richard Susilo
Vaksin Moderna yang mulai banyak dipakai di Jepang setelah 21 Mei 2021 disahkan penggunaannya oleh pemerintah Jepang 

Lalu apa kelebihan vaksin mRNA?

Secara teori, teknologi yang ada di balik vaksin mRNA dapat disesuaikan, memungkinkan adanya pembaharuan cepat saat mutasi virus baru (varian) berevolusi atau seluruh varian ditemukan.

Karena vaksin mRNA didasarkan pada urutan protein virus, membuat vaksin baru dapat secara mudah melibatkan perubahan urutan mRNA, ini jika anda tahu protein apa yang ingin anda buat.

vaksin mRNA juga diproduksi lebih cepat dan lebih andal dibandingkan vaksin tradisional.

Untuk Moderna, seluruh proses, mulai dari desain, pembuatan hingga pengiriman hanya membutuhkan waktu 7 minggu.

Kendati demikian, uji klinis untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas masih membutuhkan beberapa bulan pengujian.

Sebaliknya, vaksin lain yang menggunakan virus yang dinonaktifkan atau dilemahkan kemungkinan memerlukan waktu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mengembangkannya.

Rekomendasi Untuk Anda

Janji untuk masa depan

Terlepas dari fungsinya untuk melawan Covid-19 dan variannya, para peneliti sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk penyakit menular lainnya.

Pengujian awal pada hewan telah menunjukkan bahwa vaksin mRNA dapat menangkis virus seperti influenza, Zika dan rabies.

Para peneliti dari University of Illinois, Chicago sedang merekayasa vaksin mRNA untuk virus dengue, sementara para peneliti dari Yale berfokus pada jenis lain dari vaksin RNA untuk Malaria.

Dari 44 uji klinis yang sedang berlangsung yang menguji vaksin mRNA, 23 diantaranya menargetkan penyakit menular.

Sebelum mengembangkan vaksin mRNA untuk penyakit menular, para peneliti dan perusahaan farmasi telah mempertimbangkan potensi mRNA untuk mengobati kanker.

Lebih dari 20 vaksin mRNA diuji klinis dalam onkologi, menguji mRNA sebagai alat perawatan yang dipersonalisasi.

Idealnya, dokter akan mengidentifikasi mutasi unik yang ada pada sel kanker pasien dan memasukkannya ke dalam vaksin mRNA, mengajarkan sistem kekebalan pasien untuk lebih efektif menyerang sel kanker.

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas