Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Krisis Myanmar

Komite Hak Anak PBB: 75 Anak Tewas, 1.000 Orang Ditahan Sejak Kudeta Myanmar

Pakar PBB mengatakan puluhan anak terbunuh dan ratusan orang ditahan secara sewenang-wenang di Myanmar, sejak kudeta 1 Februari 2021 kemarin.

Komite Hak Anak PBB: 75 Anak Tewas, 1.000 Orang Ditahan Sejak Kudeta Myanmar
STR / AFP
Pengunjuk rasa memegang suar sementara yang lainnya memberi hormat tiga jari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 22 Juni 2021. 

TRIBUNNEWW.COM - Pakar hak asasi manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, puluhan anak terbunuh dan ratusan orang ditahan secara sewenang-wenang di Myanmar, sejak kudeta 1 Februari 2021 lalu.

Melansir Al Jazeera, gejolak politik di Myanmar terus berlanjut bahkan ketika negara itu berada di situasi darurat keseahtan karena pandemi virus corona.

Komite hak anak PBB melaporkan pada Jumat (16/7/2021) bahwa mereka telah menerima “informasi yang dapat dipercaya, ada 75 anak telah terbunuh dan sekitar 1.000 ditangkap di Myanmar sejak kudeta.

“Anak-anak di Myanmar dikepung dan menghadapi korban jiwa akibat kudeta militer,” kata Ketua Komite Mikiko Otani dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: POPULER Internasional: Pawang Ular Tewas Digigit Ular | Junta Myanmar Disebut Menimbun Oksigen

Baca juga: Dokter Sebut Junta Myanmar Menimbun Pasokan Oksigen dan Vaksin, Akses Rumah Sakit Swasta Dipersulit

Pengunjuk rasa memegang suar sementara yang lainnya memberi hormat tiga jari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 22 Juni 2021.
Pengunjuk rasa memegang suar sementara yang lainnya memberi hormat tiga jari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 22 Juni 2021. (STR / AFP)

Penduduk Myanmar telah mengambil bagian dalam protes massal, tetapi telah bertemu dengan tanggapan militer brutal sejak kudeta yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

“Anak-anak terpapar kekerasan tanpa pandang bulu, penembakan acak, dan penangkapan sewenang-wenang setiap hari,” kata Otani.

“Militer menodongkan senjata ke arah mereka dan melihat hal yang sama terjadi pada orang tua dan saudara mereka,” lanjutnya.

Komite tersebut terdiri dari 18 ahli independen yang bertugas memantau pelaksanaan Konvensi Hak Anak, yang ditandatangani Myanmar pada tahun 1991.

Para ahli mengatakan mereka "sangat mengutuk pembunuhan anak-anak oleh junta dan polisi", menunjukkan bahwa "beberapa korban dibunuh di rumah mereka sendiri".

Mereka termasuk seorang gadis enam tahun di kota Mandalay, ditembak di perut oleh polisi, kata pernyataan itu.

Baca juga: Ratusan Aktivis Antikudeta Myanmar Gelar Unjuk Rasa Lagi: Kami Tidak Takut Covid-19 dan Junta

Halaman
1234
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Whiesa Daniswara
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas