Tribun

Virus Corona

Studi di Israel: 98 Persen Pengidap Alergi Tidak Terpengaruh oleh Vaksinasi Covid-19

Hasil studi peneliti Israel menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin Covid-19 jarang terjadi meskipun diberikan kepada penderita alergi

Editor: hasanah samhudi
zoom-in Studi di Israel: 98 Persen Pengidap Alergi Tidak Terpengaruh oleh Vaksinasi Covid-19
Fred TANNEAU / AFP
(FILES) Dalam file foto yang diambil pada 31 Mei 2021, seorang perawat menyiapkan jarum suntik vaksin Pfizer-BioNtech Covid-19 di pusat vaksinasi, di Garlan, Prancis barat. 

Untuk penelitian ini, para peneliti Israel memberikan vaksin Pfizer-BioNTech, yang paling banyak digunakan di negara itu, kepada 429 orang dewasa dengan riwayat alergi.

Di antara peserta penelitian, 68 orang atau 16 persen memiliki alergi makanan, dan 141 orang atau 33 persen memiliki beberapa alergi obat.

Baca juga: Bolehkan Seseorang yang Memiliki Alergi Obat dan Makanan Terima Vaksin Sinovac?

Baca juga: Anafilaktik, Reaksi Alergi Berat Tak Hanya Usai Divaksin, Bisa Juga Terjadi karena Antibiotik

Selain itu, karena alergi mereka, 95 orang atau 22 persen dari peserta secara rutin membawa jarum suntik adrenalin untuk digunakan sebagai pengobatan darurat untuk anafilaksis.

Untuk memastikan bahwa vaksin Covid-19 diberikan dengan aman kepada para peserta ini, para peneliti membuat protokol yang mengidentifikasi pasien yang berisiko dan mengedukasi mereka tentang potensi bahaya yang terkait dengan inokulasi.

Pendekatan ini membutuhkan periode pengamatan dua jam setelah menerima dosis pertama dan kedua vaksin.

Selama periode pengamatan dua jam setelah dosis pertama, sembilan wanita mengalami reaksi alergi.

Mereka mengalami reaksi alergi ringan dan langsung yang terjadi pada enam wanita. Mereka mengalami seperti  ruam, pembengkakan lidah atau uvula, atau batuk.

Baca juga: Mengenal Anafilaktik, Reaksi Alergi Berat Usai Vaksinasi

Baca juga: Alasan Seseorang yang Miliki Alergi Obat  Dapat Disuntik Vaksin Covid-19

Para peneliti mengatakan, semua reaksi ini teratasi setelah pengobatan dengan antihistamin.

Tiga pasien mengalami anafilaksis dalam waktu 10 hingga 20 menit setelah divaksin.

Mereka diobati dengan adrenalin, antihistamin, dan bronkodilator inhalasi, atau "inhaler penyelamat" untuk mengendurkan otot-otot di sekitar saluran napas.

Tak satu pun dari peserta membutuhkan perawatan di rumah sakit dan semuanya pulih sepenuhnya dalam dua hingga enam jam.

Data penelitian juga menunjukkan, di antara 218 peserta yang menerima dosis kedua vaksin, empat mengalami reaksi alergi ringan yang sembuh selama periode pengamatan dua jam.

Baca juga: Guru Besar Farmasi UI Harap Ada Pemantauan Reaksi Alergi Pasca Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Dokter Ini Mengaku Hampir Diintubasi Setelah Alerginya Muncul Gara-gara Vaksin Moderna

Selain itu, tiga dari empat orang juga mengalami reaksi setelah dosis pertama.

"Kami mengaktifkan imunisasi sebagian besar pasien dengan alergi dengan menggunakan algoritma sederhana yang mencakup pusat rujukan, kuesioner penilaian risiko dan lingkungan yang aman untuk imunisasi pasien yang sangat alergi dengan observasi setelah imunisasi," tulis para peneliti.

"Algoritme ini dapat diimplementasikan dalam pengaturan medis apa pun untuk memungkinkan imunisasi bagi semua orang,” katanya. (Tribunnews.com/UPI/Hasanah Samhudi)

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas