Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

31 Pengungsi dan Migran Tewas setelah Kapal Terbalik di Selat Inggris

Sebanyak 31 pengungsi dan migran tewas dalam insiden kapal tenggelam saat menyeberangi Selat Inggris.

Penulis: Yurika Nendri Novianingsih
Editor: Pravitri Retno W
zoom-in 31 Pengungsi dan Migran Tewas setelah Kapal Terbalik di Selat Inggris
AFP
Perahu organisasi penyelamat laut sukarelawan Prancis Societe Nationale de Sauvetage en Mer (SNSM) yang membawa mayat migran yang tiba di pelabuhan Calais - Sebanyak 31 orang tewas akibat kapal tenggelam di Selat Inggris. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebanyak 31 pengungsi dan migran tewas saat berusaha menyeberangi Selat Inggris pada Rabu (24/11/2021).

Mereka melakukan perjalanan dari Prancis ke Inggris kemudian perahu tenggelam di lepas pantai utara Calais.

Dikutip dari CNA, operasi gabungan Prancis-Inggris untuk mencari korban selamat berlangsung pada Rabu malam.

Setidaknya tiga kapal dan tiga helikopter dikerahkan untuk melakukan pencarian.

Baca juga: Jokowi Blak-blakan Pada PM Inggris Soal EBT, Kalau Hanya Ngomong Saja, Saya Juga Bisa

Baca juga: Jerman, Prancis, dan AS Desak Warganya Tinggalkan Etiopia

Seorang nelayan menelepon layanan penyelamatan setelah melihat sampan kosong dan orang-orang mengambang tak bergerak di dekatnya.

Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut insiden itu sebagai kehilangan nyawa tunggal terbesar di Selat sejak mengumpulkan data pada 2014.

Perdana Menteri Prancis, Jean Castex, menyebut tenggelamnya kapal itu sebagai "tragedi".

Berita Rekomendasi

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengumumkan setidaknya 31 orang telah meninggal dan mengatakan negaranya tidak akan membiarkan jasad korban dibiarkan di Selat.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerard Darmanin, mengatakan lima wanita dan seorang gadis termasuk di antara 31 orang yang tewas, sementara dua orang berhasil diselamatkan.

Darmanin menambahkan, polisi Prancis telah menangkap empat orang yang diduga terkait dengan tenggelamnya 31 migran itu, yang disebutnya "tragedi (migran) terbesar yang pernah kita lihat".

Mengutip BBC, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan kematian itu adalah "bencana".

Polisi menutup area sekitar pelabuhan Calais, Prancis.
Polisi menutup area sekitar operasi penyelamatan di pelabuhan Calais pada 24 November 2021 di Calais, Prancis. Setidaknya 31 orang termasuk lima wanita dan seorang gadis muda tewas saat mencoba menyeberangi Selat ke Inggris dengan perahu karet.

Dia menambahkan harus menghancurkan geng-geng perdagangan manusia yang secara harfiah lolos dari pembunuhan.

Perdana menteri mengatakan lebih banyak yang harus dilakukan untuk menghentikan penjahat mengatur penyeberangan.

"Ini juga menunjukkan betapa pentingnya kami sekarang meningkatkan upaya kami untuk mematahkan model bisnis para gangster yang mengirim orang ke laut dengan cara ini," katanya.

Baca juga: Alasan Amerika Serikat Tak Mau Mengembangkan Kereta Cepat

Baca juga: Prancis Larang Penggunaan Satwa Liar dalam Pertunjukan Sirkus

Dia juga mengakui upaya sejauh ini untuk membendung arus migran yang melintasi Selat menggunakan perahu kecil "belum cukup" dan bahwa Inggris akan menawarkan untuk meningkatkan dukungannya ke Prancis.

Downing Street kemudian mengatakan Johnson dan Macron sepakat tentang pentingnya kerja sama yang erat dengan tetangga di Belgia dan Belanda, serta negara-negara Eropa lainnya, untuk mengatasi masalah sebelum orang mencapai pantai Prancis.

Inggris telah berjanji untuk memberi Prancis € 62,7 juta selama 2021-2022 untuk membantu meningkatkan patroli polisi di sepanjang garis pantainya, meningkatkan pengawasan udara, dan meningkatkan infrastruktur keamanan di pelabuhan.

(Tribunnews.com/Yurika)

Sumber: TribunSolo.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas