Tribun

Boikot Olimpiade Beijing Semakin Meluas, Jepang Masih Wait and See

Pemerintah Jepang diperkirakan akan membuat keputusan akhir berdasarkan tanggapan pihak China dan tren tujuh negara maju (G7) selain Amerika Serikat.

Editor: Dewi Agustina
Boikot Olimpiade Beijing Semakin Meluas, Jepang Masih Wait and See
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Logo Olimpiade Tokyo di sore hari. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 semakin meluas. Setelah Amerika Serikat memboikot minggu lalu, Rabu (8/12/2021) tiga negara lainnya juga melakukan boikot yaitu Australia, Inggris, dan Kanada.

Namun Ketua IOC (komisi olimpiade internasional) Thomas Bach berbicara lain.

"IOC tertarik dengan partisipasi para atlet," kata Thomas Bach, ketua IO, Rabu (8/12/2021).

"Kami tertarik pada atlet. Kami menyambut atlet untuk berpartisipasi dalam kompetisi dan mendapat dukungan negara. Politik sebaliknya, prinsip netralitas politik berlaku," ungkap Thomas Bach.

Ketua IOC Thomas Bach menekankan bahwa boikot diplomatik di mana pejabat pemerintah tidak berpartisipasi dalam Olimpiade Beijing adalah keputusan politik masing-masing negara, dan partisipasi atletlah yang penting bagi IOC.

Boikot diplomatik pertama kali diumumkan oleh Amerika Serikat, dan kemarin Australia, Inggris, dan Kanada bergabung, dan menyebar ke empat negara.

Baca juga: Ikuti AS, Australia Boikot Diplomatik di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

Namun, semua negara telah menunjukkan kebijakan pengiriman atlet. Boikot tersebut kemungkinan menyebar ke semua anggota G7.

"Ada rencana Jepang untuk mengirim direktur non-menteri Koji Murofushi dari Badan Olahraga Jepang dan ketua Yasuhiro Yamashita dari Komite Olimpiade Jepang," ungkap sumber Tribunnews.com, Kamis (9/12/2021).

Pemerintah Jepang diperkirakan akan membuat keputusan akhir berdasarkan tanggapan pihak China dan tren tujuh negara maju (G7) selain Amerika Serikat.

Perdana Menteri Fumio Kishida mengatakan kepada wartawan di kediaman resmi pada tanggal 7 Desember bahwa ia ingin membuat penilaiannya sendiri tentang Olimpiade Beijing dari perspektif kepentingan nasional, dengan mempertimbangkan pentingnya diplomasi Jepang.

"Kita masih wait and see melihat negara-negara lain mengenai partisipasi para diplomat ke Olimpiade Peking. Itu semua gara-gara pelanggaran HAM yang dilakukan China kepada masyarakat Uyghur," ungkap sumber Tribunnews.com.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas