Tribun

Para Pemimpin Dunia Tolak Tes Covid di Rusia, Khawatir DNA-nya Dicuri untuk Dijadikan Senjata?

Para pemimpin dunia menolak tes virus Corona (Covid-19) di Rusia. Benarkah karena khawatir DNA-nya dicuri untuk dijadikan senjata?

Penulis: Rica Agustina
Editor: Sri Juliati
zoom-in Para Pemimpin Dunia Tolak Tes Covid di Rusia, Khawatir DNA-nya Dicuri untuk Dijadikan Senjata?
Kompas.com
Ilustrasi tes Covid-19 - Para pemimpin dunia menolak tes virus Corona (Covid-19) di Rusia. Benarkah karena khawatir DNA-nya dicuri untuk dijadikan senjata? 

TRIBUNNEWS.COM - Para pemimpin dunia yang bergegas ke Moskow dalam beberapa hari terakhir untuk pembicaraan diplomatik tampaknya menolak tes virus Corona (Covid-19) yang dikelola Rusia.

Kanselir Jerman, Olaf Scholz menolak untuk melakukan tes PCR terhadapnya.

Sementara pejabat Prancis mengatakan, Presiden Emmanuel Macron menolak keras beberapa persyaratan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Hal ini mengarah ke spekulasi bahwa dia juga tidak menginginkan tes yang dikelola Rusia.

Kedua pemimpin tersebut diketahui bukan termasuk penentang penanggulangan Covid-19, sehingga muncul spekulasi bahwa penolakan itu adalah usaha menjaga materi genetik dari tangan Rusia.

Ilmu gen suatu hari bisa menjadi tambahan yang berguna untuk gudang senjata, kata para ahli intelijen.

Baca juga: Rusia-Ukraina Disebut Semakin Genting, Joe Biden: Rusia Akan Menyerang Dalam Beberapa Hari

Adapun berikut penjelasan mengenai DNA yang bisa menjadi 'senjata', dikutip dari APNews.

Apakah pemimpin dunia benar-benar menyebut Rusia mencoba menggunakan DNA mereka untuk alasan kejahatan?

Tidak, tetapi itu bukan berarti dapat menghentikan spekulasi yang merajalela.

Para pejabat Prancis melontarkan pertanyaan dan menolak gagasan bahwa Rusia diam-diam berusaha mendapatkan DNA Macron.

Seorang pejabat Prancis mengatakan persyaratan Rusia agar Macron bisa dekat dengan Putin "tidak dapat diterima" dan "tidak sesuai" dengan agenda presiden Prancis.

Juru bicara pemerintah Jerman Steffen Hebestreit mengatakan bahwa Scholz mengikuti prosedur yang sama yang diterapkan Jerman untuk pejabat asing.

"Mereka dapat menyerahkan tes PCR mereka sendiri dan, jika ada keraguan, seorang dokter dapat naik ke pesawat untuk mengamati tes," kata Hebestreit.

"Pihak Rusia melihatnya secara berbeda dan berkata: jika ada tes, itu harus tes Rusia. Dan kanselir memutuskan dia tidak akan tersedia untuk itu."

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas