Tribun

Konflik Rusia Vs Ukraina

Warga Rusia Terkena Imbas Sanksi Ekonomi, Inflasi Melonjak hingga Tingginya Angka Pengangguran

Rusia mulai merasakan kesulitan, setelah negara-negara Barat mulai menjatuhkan sanksi ekonomi akibat serangan yang mereka lancarkan pada Ukraina.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Sanusi
zoom-in Warga Rusia Terkena Imbas Sanksi Ekonomi, Inflasi Melonjak hingga Tingginya Angka Pengangguran
AFP/ARIS MESSINIS
Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di sebuah gedung apartemen di Kyiv pada 15 Maret 2022, setelah serangan di daerah pemukiman menewaskan sedikitnya dua orang, layanan darurat Ukraina mengatakan ketika pasukan Rusia mengintensifkan serangan mereka di ibukota Ukraina. - Serangkaian ledakan dahsyat mengguncang distrik perumahan di Kyiv pagi ini menewaskan dua orang, hanya beberapa jam sebelum pembicaraan antara Ukraina dan Rusia akan dilanjutkan. (Photo by Aris Messinis / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW - Rusia mulai merasakan kesulitan, setelah negara-negara Barat mulai menjatuhkan sanksi ekonomi akibat serangan yang mereka lancarkan pada Ukraina.

Pada 24 Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan untuk menyerang Ukraina, baik dari darat, laut maupun udara. Buntut serangan ini, Rusia mendapat sanksi ekonomi yang berimbas pada jatuhnya nilai Rubel, meningkatnya inflasi dan jumlah pengangguran yang semakin melonjak.

Walaupun dalam pidatonya pada Rabu (16/3/2022) lalu, Vladimir Putin menyampaikan Rusia dapat bertahan dari sanksi ekonomi ini, namun kehidupan sehari-hari warga Rusia nyatanya mulai terpengaruh dengan adanya sanksi ini. Berdasarkan data dari situs aljazeera.com, inilah dampak sanksi ekonomi pada kehidupan sehari-hari warga Rusia.

Baca juga: Intelijen Inggris Sebut Pasukan Rusia yang Menuju Kyiv Telah Dipukul Mundur Tentara Ukraina

Inflasi yang meningkat

Menurut kementerian ekonomi Rusia, inflasi tahunan melonjak menjadi 12,5 persen pada 11 Maret lalu, dari 10,4 persen pada minggu sebelumnya. Sedangkan surat kabar bisnis Kommersant melaporkan, kenaikan 10,4 persen harga pangan dari 26 Februari hingga 4 Maret merupakan kenaikan tertinggi sejak tahun 1998.

Baca juga: PBB: Lebih dari 900 Warga Sipil di Ukraina Tewas Sejak Invasi Dimulai

Pengguna media sosial yang berasal dari kota Samara, yang mengaku bernama Ivan, mengatakan saat ini harga sekaleng tuna di Rusia berada di kisaran antara 160 sampai 180 rubel, dari harga sebelumnya yaitu 130 rubel. Dalam postingan Twitter-nya, Ivan juga mengungkapkan persediaan gula sangat sulit ditemukan.

Mata uang Rusia, Rubel sendiri mengalami penurunan yang memicu pengecer menaikan harga kebutuhan sehari-hari. Kommersant melaporkan, salah satu perusahaan penyedia barang-barang, Procter & Gamble menaikan harga rata-rata sebesar 40 persen, karena biaya logistik, material dan penurunan nilai mata uang rubel.

Obat-obatan menjadi sulit ditemukan

Seorang wanita dan warga Rusia yang tinggal di kota Saint Petersburg, melaporkan adanya antrean yang panjang di depan apotek dan harga obat-obatan meningkat. Wanita yang menolak disebutkan namanya ini juga menambahkan, kedua temannya bahkan mempertimbangkan pergi ke Finlandia untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.

Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Ganggu Pasokan Gandum, Wilayah Timur Tengah Dibayangi Krisis Pangan

Meskipun kenaikan obat-obatan tidak sebanyak produk lainnya, namun perusahaan pelayaran besar telah menghentikan layanan mereka ke Rusia, yang dapat berimbas pada menipisnya persediaan obat-obatan di Negara Beruang Putih ini. Media lokal di kota Saratov, melaporkan harga obat di kota ini telah meningkat sekitar 2,3 sampai 6,7 persen.

Kepala Departemen Regional layanan federal untuk pengawasan dan perawatan kesehatan Rusia, Andrey Baratov mengatakan tidak mengharapkan kenaikan harga obat-obatan yang tinggi, walaupun saat ini keluhan tingginya harga obat-obatan telah banyak terdengar. Di apotek-apotek sendiri muncul keraguan obat Rusia dapat meggantikan obat asing.

Tingginya jumlah pengangguran

Setelah negara-negara Barat setuju untuk menghapus Bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT, yang berimbas berhentinya layanan perusahaan penyedia kartu kredit dan debit Visa, Mastercard dan lainnya di Rusia.

Berhentinya layanan dan aktivitas sejumlah perusahaan multinasional seperti Apple dan Ikea, diperkirakan berdampak signifikan pada angka ketenagakerjaan. Perusahaan penyedia makanan cepat saji asal Amerika Serikat, McDonald’s mengungkapkan berhentinya operasi bisnis mereka pada 8 Maret kemarin, dapat berdampak pada 62.000 pekerja yang bekerja di 850 cabang mereka di Rusia.

Baca juga: Ukraina Akan Manfaatkan Senjata Rusia yang Berhasil Direbut untuk Lakukan Serangan Balik

Kommersant juga memperkirakan penurunan pemberian upah tidak dapat dihindari, dan peningkatan pengangguran di Rusia diperkirakan akan naik sekitar 7 persen di akhir tahun 2022.

Dampak sanksi ekonomi pada biaya Liburan

Sanksi ekonomi juga berimbas pada biaya liburan musim panas yang akan datang, bagi warga Rusia. Media lokal melaporkan, penyedia jasa tur liburan mulai bersiap menaikan harga layanan yang mereka sediakan di dalam negeri, sekitar 30 persen.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas