Tribun

Virus Corona

Pernah Jadi Pusat Pandemi Dunia, Spanyol akan Anggap Virus Corona Seperti Flu

Spanyol berencana menganggap infeksi virus corona atau Covid-19 seperti penyakit biasa seperti flu.

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Sri Juliati
zoom-in Pernah Jadi Pusat Pandemi Dunia, Spanyol akan Anggap Virus Corona Seperti Flu
AFP/JOSEP LAGO
Anggota Unit Darurat Militer (UME) melakukan desinfeksi umum di binatu fasilitas perawatan yang diperpanjang Sant Antoni di Barcelona. Spanyol, Jumat (27/3/2020). Korban tewas di Spanyol melonjak lebih dari 4.800 hari ini setelah 769 orang meninggal dalam 24 jam, dalam angka rekor satu hari untuk kematian, kata pemerintah. Spanyol memiliki angka kematian tertinggi kedua di dunia setelah Italia, dan sejauh ini menderita 4.858 kematian, sementara jumlah kasus melonjak menjadi 64.059. 

TRIBUNNEWS.COM - Spanyol berencana menganggap infeksi virus corona atau Covid-19 seperti penyakit biasa seperti flu.

Dilansir SCMP, warga yang terinfeksi virus corona dan mengalami gejala ringan atau tidak sama sekali, diizinkan menjalani kehidupan normal. 

Tes virus corona maupun isolasi atau karantina mandiri tidak lagi wajib.

Hanya kelompok berisiko yang tetap wajib mengikuti peraturan pandemi.

Mereka yang dimaksud di antaranya lansia berusia di atas 60 tahun, orang-orang dengan kondisi imunitas lemah, wanita hamil, dan petugas kesehatan.

Baca juga: Volkswagen Investasikan 7 Miliar Euro untuk Bangun Pabrik Sel Baterai Kendaraan Listrik di Spanyol

Baca juga: 20 Juta Orang di Indonesia Sudah Disuntik Vaksin Booster Covid-19

Anggota Unit Kedaruratan Militer (UME) melakukan desinfeksi umum di di fasilitas perawatan lanjutan Sant Antoni di Barcelona. Spanyol. Jum'at (27 Maret 2020).  Korban tewas di Spanyol melonjak lebih dari 4.800 hari ini setelah 769 orang meninggal dalam 24 jam, dalam angka rekor satu hari untuk kematian, kata pemerintah. Spanyol memiliki angka kematian tertinggi kedua di dunia setelah Italia, dan sejauh ini menderita 4.858 kematian, sementara jumlah kasus melonjak menjadi 64.059. (AFP/Josep LAGO)
Anggota Unit Kedaruratan Militer (UME) melakukan desinfeksi umum di di fasilitas perawatan lanjutan Sant Antoni di Barcelona. Spanyol. Jum'at (27 Maret 2020). Korban tewas di Spanyol melonjak lebih dari 4.800 hari ini setelah 769 orang meninggal dalam 24 jam, dalam angka rekor satu hari untuk kematian, kata pemerintah. Spanyol memiliki angka kematian tertinggi kedua di dunia setelah Italia, dan sejauh ini menderita 4.858 kematian, sementara jumlah kasus melonjak menjadi 64.059. (AFP/Josep LAGO) (AFP/JOSEP LAGO)

Artinya, satu-satunya tindakan untuk menanggulangi penyebaran virus corona di sebagian wilayah yakni menggunakan masker.

Terutama di dalam ruangan publik dan kendaraan umum seperti bus, kereta api, hingga pesawat terbang.

Di Galicia, persyaratan berupa status vaksinasi, hasil tes Covid-19, atau riwayat terpapar virus corona, masih berlaku saat memasuki rumah sakit dan panti jompo.

Restoran di sana juga masih menerapkan batasan jumlah tamu.

Namun pembatasan tersebut akan berakhir pada 9 April mendatang.

Situasi epidemi di Spanyol kini telah jauh berkurang.

Padahal negara Eropa ini sempat terpukul karena lonjakan kasus yang tinggi di awal pandemi.

Spanyol bahkan sempat menjadi pusat pandemi Covid-19 dunia, bersama dengan sejumlah negara Eropa lainnya.

Sekarang, tingkat kejadian tujuh hari pada Jumat adalah 227 per 100.000 penduduk, hanya 3,6 persen dari semua tempat tidur rumah sakit yang ditempati oleh pasien Covid-19.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas