Tribun

Gedung Putih Tanggapi Permintaan Ukraina Gabung NATO

saat ini adalah waktu yang tidak tepat untuk mempertimbangkan pengajuan keanggotaan Ukraina.

Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Gedung Putih Tanggapi Permintaan Ukraina Gabung NATO
@Kantor Presiden Ukraina
Sebuah foto yang menggambarkan seorang pengawal Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memakai lencana bergambar tengkorak-dan-tulang menjadi kontroversi. 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) berkomitmen pada kebijakan 'pintu terbuka' ketika berkaitan dengan NATO, namun saat ini adalah waktu yang tidak tepat untuk mempertimbangkan pengajuan keanggotaan Ukraina.

Pernyataan tersebut disampaikan Penasihat Keamanan Nasional Presiden AS Joe Biden, Jake Sullivan pada Jumat kemarin.

"Saat ini, pandangan kami adalah bahwa cara terbaik bagi kami untuk mendukung Ukraina adalah melalui dukungan praktis di lapangan di Ukraina, dan bahwa proses di Brussels (NATO) harus dilakukan pada waktu yang berbeda," kata Sullivan dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Sebelumnya pada hari itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melakukan penandatanganan aplikasi keanggotaan untuk blok tersebut.

Ia mengklaim Ukraina adalah sekutu 'de facto' dan menuntut prosedur aksesi yang 'dipercepat'.

Dikutip dari laman Russia Today, Sabtu (1/10/2022), Sullivan menggemakan komentar yang dibuat sebelumnya oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg bahwa keanggotaan memerlukan konsensus dari semua 30 anggota blok yang dipimpin AS itu.

Stoltenberg juga menjanjikan dukungan 'tak tergoyahkan' dan 'tegas' untuk Ukraina.

Baca juga: Ukraina Ajukan Keanggotaan NATO Jalur Cepat setelah Rusia Caplok 4 Wilayahnya

Namun menekankan bahwa NATO tidak akan menjadi pihak yang berkonflik dengan Rusia.

Ditanya tentang pencaplokan yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Donetsk, Lugansk, Zaporozhye dan Kherson, Sullivan menegaskan bahwa itu semua adalah wilayah milik Ukraina.

Menurutnya, referendum 'palsu' yang 'diadakan di bawah todongan senjata' Rusia merupakan bagian dari 'pra -proses yang dipentaskan dan dipalsukan'.

"Presiden Rusia Vladimir Putin pun sempat mengoceh tentang satanisme Barat yang disebut melakukan 'perampasan tanah kolonial dan kekaisarannya'," jelas Sullivan.

Meskipun Putin dan Biden telah menggambarkan ledakan di jalur pipa Nord Stream sebagai sabotase yang disengaja, Sullivan menegaskan bahwa AS dan sekutunya tidak bisa disalahkan atas insiden itu.

"Tuduhan yang dibuat Rusia tentang AS dan negara-negara lain adalah salah besar, Rusia tahu itu salah, tetapi tentu saja ini adalah bagian dari pedoman mereka," tegas Sullivan.

Sebelumnya, Biden mengatakan bahwa Rusia 'menyebarkan disinformasi dan kebohongan' tentang siapa yang merusak jaringan pipa tersebut.

Ia juga menekankan bahwa AS dan sekutunya akan melakukan penyelidikan 'pada saat yang tepat' untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Itu kami belum tahu, jangan dengarkan apa yang dikatakan Putin, apa yang dia katakan kita tahu itu tidak benar," kata Biden.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas