Tribun

Donald Trump Tak Terima Hasil Pilpres AS 2020, Minta Gedung Putih Hapus Konstitusi

Donald Trump tak terima hasil Pilpres AS 2020, minta Gedung Putih hapus konstitusi. Trump kembali ungkit hasil Pilpres 2020 pasca kekalahannya.

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Whiesa Daniswara
zoom-in Donald Trump Tak Terima Hasil Pilpres AS 2020, Minta Gedung Putih Hapus Konstitusi
AFP/STRINGER
Mantan Presiden AS Donald Trump mengacungkan tinjunya saat berjalan ke sebuah kendaraan di luar Trump Tower di New York City pada 10 Agustus 2022. - Donald Trump pada Rabu menolak menjawab pertanyaan di bawah sumpah di New York atas dugaan penipuan di bisnis keluarganya, karena tekanan hukum menumpuk untuk mantan presiden yang rumahnya digerebek oleh FBI hanya dua hari yang lalu. - Donald Trump kembali ungkit hasil Pilpres 2020. 

TRIBUNNEWS.COM - Donald Trump menyarankan penghentian Konstitusi Amerika Serikat setelah ia menolak hasil pemilu tahun 2020 yang dimenangkan oleh Presiden Joe Biden.

Ia mengatakan, hasil Pilpres AS harus dibuang dan segera mengadakan pemilu baru.

"Penipuan besar-besaran jenis dan besarnya ini memungkinkan penghentian semua aturan, peraturan, dan pasal, bahkan yang ditemukan dalam konstitusi," tulis Donald Trump dalam sebuah posting di Truth Social, Minggu (4/12/2022).

"Para pendiri kita yang hebat tidak mau, dan tidak akan memaafkan Pemilu Palsu dan Penipuan!"

Donald Trump sebelumnya sering mengomentari hasil pemilu tahun 2020 dan mencoba menggagalkannya.

Baca juga: Elon Musk Pulihkan Akun Twitter Donald Trump seusai Gelar Voting Online 24 Jam

Komentar Politisi AS

Pada Minggu (4/12/2022), pemimpin Partai Demokrat Hakeem Jeffries mengomentari pernyataan Trump sebagai pemikiran yang aneh dan ekstrem.

Ia mengatakan Partai Republik harus membuat pilihan apakah akan terus menerima pandangan anti-demokrasi Donald Trump.

“Partai Republik harus menyelesaikan masalah mereka dengan mantan presiden (Donald Trump) dan memutuskan apakah mereka akan melepaskan diri darinya dan kembali ke semacam kewajaran atau terus bersandar pada ekstremisme, bukan hanya Trump, tetapi Trumpisme," kata Jefries, dikutip dari The New York Times.

Sementara itu, Perwakilan Mike Turner dari Ohio, Republikan teratas di Komite Intelijen DPR, mengatakan dia dengan keras tidak setuju dan benar-benar mengutuk pernyataan tersebut.

Ia mengatakan tingkah Trump itu harus menjadi faktor bagi Partai Republik untuk memutuskan siapa yang harus memimpin partai mereka pada tahun 2024.

“Saya percaya bahwa orang pasti akan mempertimbangkan pernyataan seperti ini saat mereka mengevaluasi seorang kandidat.”

Dalam file foto yang diambil pada 06 Januari 2021, Donald Trump menyemangati para pendukungnya dari The Ellipse dekat Gedung Putih di Washington, DC.
Dalam file foto yang diambil pada 06 Januari 2021, Donald Trump menyemangati para pendukungnya dari The Ellipse dekat Gedung Putih di Washington, DC. (Brendan Smialowski / AFP)

Baca juga: Pasca Tersingkir Dari Piala Dunia 2022, Berhalter: Amerika Serikat Tahu Cara Bermain Sepak Bola

Mike Lawler dari Partai Republik New York, juga keberatan dengan pernyataan tersebut.

Ia mengatakan sudah waktunya untuk berhenti berfokus pada keluhan pemilu sebelumnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas