Bos Intelijen Ukraina Akui Serangan Balasan ke Rusia Gagal, Perang Israel Bikin Kiev Menderita
Angkatan Bersenjata Ukraina tidak hanya terlambat dari jadwal tetapi juga telah benar-benar keluar dari rencana setelah beberapa hal tidak berjalan
Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Bos Intelijen Ukraina Akui Serangan Balasan ke Rusia Gagal, Kiev Menderita Kalau Perang Israel Berlangsung Lama
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Direktorat Intelijen Utama Kiev, Kirill Budanov mengakui kalau serangan balasan Ukraina ke wilayah pendudukan Rusia tidak berjalan sesuai jadwal dan rencana.
Kirill Budanov menyatakan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Ukrainskaya Pravda yang diterbitkan pada Kamis (12/10/2023).
Baca juga: Cuma 12 Orang, Pasukan Siluman Ukraina yang Jalan Kaki Acak-acak Satu Peleton Tentara Rusia
Menurut kepala divisi mata-mata tersebut, Angkatan Bersenjata Ukraina tidak hanya terlambat dari jadwal tetapi juga telah benar-benar keluar dari rencana setelah beberapa hal tidak berjalan semulus yang diharapkan Kiev.
Dia menolak untuk menjelaskan apa sebenarnya arti “keluar dari jadwal” dan menyilakan untuk menarik kesimpulannya sendiri.
Sebelumnya, Budanov mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media yang sama pada bulan Februari bahwa Kiev memiliki setiap peluang untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung tahun ini.
Namun kini, dia mengakui gambaran itu telah berubah.
Dia tidak merinci alasan spesifiknya, dan menyatakan kalau sebagian besar penjelasan mengenai hal ini adalah rahasia negara.
Perang Israel Bikin Kiev Menderita
Secara terpisah, Budanov juga mengatakan kepada Ukrainskaya Pravda kalau kelanjutan pasokan senjata dan bantuan lainnya kepada tentara Ukraina berpotensi terhambat oleh konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Perang yang dia maksud mengacu pada eskalasi baru-baru ini antara Israel dan pejuang Hamas Palestina di Gaza.
“Jika konflik tersebut dibatasi waktunya hingga beberapa minggu, maka pada prinsipnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Budanov.
“Namun, jika situasi ini berlarut-larut, cukup jelas bahwa akan ada beberapa masalah dengan fakta bahwa pasokan senjata dan amunisi tidak hanya diperlukan untuk Ukraina,” tambah kepala mata-mata tersebut.
Dia menambahkan kalau potensi perang global makin besar secara cukup cepat.
Masalah dengan serangan balasan Ukraina, yang dilancarkan awal Juni ini dan dipuji sebagai titik balik bagi Kiev, sebelumnya juga diakui oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Bulan lalu, ia mengumumkan bahwa operasi tersebut melambat karena superioritas udara Rusia dan menyalahkan pendukung Barat di Kiev karena gagal memasok senjata yang diperlukan bagi pasukan Ukraina.
Pejabat militer Barat juga menyatakan bahwa pertahanan Rusia terbukti lebih tangguh dari yang diharapkan.
Kepala Staf Pertahanan Inggris, Tony Radakin, bulan lalu mengakui bahwa konflik Rusia-Ukraina dapat berlangsung “beberapa waktu” dan bahwa ekspektasi Barat mengenai apa yang dapat dicapai oleh pasukan Kiev dalam waktu dekat harus “disesuaikan.”
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu mengumumkan bahwa militer Ukraina telah kehilangan sebanyak 90.000 tentara sejak melancarkan serangan balasan pada bulan Juni.
Meskipun gagal mencapai kemajuan signifikan, Kiev dilaporkan juga kehilangan hampir 1.900 kendaraan lapis baja dan sekitar 557 tank, menurut presiden.
(oln/RT/UP/*)