Pejabat AS: Israel Mencapai Batas Akhir di Gaza, Tidak Akan Pernah Melenyapkan Hamas
Pejabat AS dan Israel mengatakan Israel sudah mencapai batas akhirnya di Gaza. IDF tidak akan pernah bisa melenyapkan Hamas.
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Para pejabat AS dan Israel sekali lagi mengakui kegagalan rezim Israel dalam agresi selama berbulan-bulan di Jalur Gaza.
Para pejabat menekankan bahwa kemungkinan mengalahkan gerakan perlawanan Palestina Hamas telah menurun secara signifikan, dilansir PressTV.
Media Barat The New York Times mengutip pernyataan pejabat Amerika dan Israel yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah laporan pada hari Kamis (15/8/2024).
Laporan itu menyebut bahwa kemungkinan melemahnya Hamas telah semakin berkurang, dan para sandera yang ditawan di Gaza tidak dapat dibebaskan dengan cara militer.
Pejabat AS mengindikasikan bahwa Israel telah mencapai semua yang dapat dicapainya secara militer di Gaza.
Selain itu, pemboman yang terus berlanjut hanya akan meningkatkan risiko bagi warga sipil Palestina.
Pejabat itu menegaskan bahwa Israel telah mencapai garis akhir di medan perang.
Para pejabat memang mengakui bahwa Hamas telah mengalami kemunduran di Gaza.
Meski begitu, militer Israel tidak akan pernah mampu melenyapkan kelompok tersebut sepenuhnya.
Pejabat menekankan fakta bahwa Israel mencoba merusak jaringan terowongan di Gaza, tetapi gagal menghancurkannya.
"Jaringan terowongan tersebut terbukti lebih besar dari yang diperkirakan Israel, dan merupakan cara yang efektif bagi Hamas."
Baca juga: Jumlah Warga Gaza yang Tewas Tembus 40.000, Babak Baru Perundingan Gencatan Senjata Dimulai
Surat kabar Amerika itu juga mengutip pernyataan pejabat Pentagon, bahwa Israel belum bisa membuktikan kemampuannya mengamankan wilayah di Gaza.
"Diplomasi adalah satu-satunya cara yang memungkinkan Israel memulangkan para tawanan."
Di sisi lain, tentara pendudukan Israel juga beberapa kali mengakui ketidakmungkinan mencapai tujuan utama perangnya di Gaza, yakni menghancurkan Hamas.
Mereka menekankan bahwa gerakan perlawanan tersebut adalah sebuah "ide" atau "gagasan" yang tidak dapat dihancurkan.
“Berbicara tentang penghancuran Hamas seperti melemparkan abu di mata publik, karena hal itu tertanam di hati rakyat,” kata juru bicara militer Israel Daniel Hagari dalam sebuah wawancara dengan Channel 13 berbahasa Ibrani pada bulan Juni.
Mengkritik para pemimpin politik pendudukan yang menyerukan penghapusan Hamas, Hagari menambahkan:
“Hamas adalah sebuah gagasan. dan Anda tidak dapat menghancurkan sebuah gagasan. Tingkat politik harus menemukan alternatifnya, jika tidak, gagasan tersebut akan tetap ada.”
Israel melancarkan perang setelah Operasi Badai al-Aqsa.
Operasi Badai al-Aqsa adalah operasi balasan yang dilancarkan oleh kelompok perlawanan yang berbasis di Gaza, sebagai balasan atas kejahatan rezim selama puluhan tahun terhadap warga Palestina.
Serangan mendadak itu menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan 250 lainnya ditawan, di antaranya lebih dari 60 orang tewas dalam serangan Israel di Gaza.
Sementara itu serangan Israel telah menewaskan lebih dari 40.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan melukai lebih dari 92 ribu lainnya.
Ada juga ribuan lainnya juga hilang dan diduga tewas di bawah reruntuhan.
Hamas telah berulang kali mengatakan akan membebaskan tawanan asalkan Israel menghentikan total agresinya.
Hamas juga ingin orang-orang di Gaza dapat kembali ke rumah mereka.
Baca juga: Pejabat AS: Israel Sudah Melakukan Segala Cara Militer di Gaza Tapi Hamas Tak Hancur dan Tetap Ada
Perundingan Terbaru soal Gencatan Senjata
Sementara itu, putaran baru perundingan gencatan senjata Gaza akan berlangsung di Doha, Kamis (15/8/2024), Al Jazeera melaporkan.
Perundingan dihadiri oleh pejabat dari Israel, Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir.
Hamas kemungkinan besar tidak hadir dalam perundingan tersebut.
Hamas telah menyuarakan skeptisisme tentang hasil perundingan tersebut.
Hamas menyalahkan Israel karena menunda perundingan.
“Melakukan perundingan baru memungkinkan pendudukan untuk memberlakukan persyaratan baru dan menggunakan labirin perundingan untuk melakukan lebih banyak pembantaian,” kata pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri kepada kantor berita Reuters.
Melaporkan dari Amman, Yordania, Hamdah Salhut dari Al Jazeera mengatakan Hamas ingin para mediator kembali ke proposal asli yang diumumkan oleh Presiden AS Joe Biden pada bulan Mei.
“Mereka mengatakan, sampai mereka mendapatkan jaminan itu, mereka tidak akan membuat keputusan tentang pengiriman delegasi ke perundingan,” katanya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.