Satu Tahun setelah Jatuhnya Assad, Apa Saja yang Berubah di Suriah?
Setahun setelah tumbangnya rezim Bashar al-Assad, ekonomi Suriah perlahan pulih, tetapi masalah keamanan masih terus mengintai.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Setahun setelah tumbangnya rezim Bashar al-Assad, Suriah masih menghadapi keamanan yang rapuh dengan ancaman ISIS dan bentrokan antar kelompok.
- Pemerintahan sementara Ahmad al-Sharaa menunjukkan kemajuan diplomatik dengan membuka kembali kedutaan dan menjalin hubungan internasional.
- Di tengah kepulangan jutaan pengungsi dan kerusakan infrastruktur besar, ekonomi Suriah mulai pulih perlahan
TRIBUNNEWS.COM - Tanggal 8 Desember 2025 menandai satu tahun sejak jatuhnya diktator Suriah Bashar al-Assad.
Keluarga Assad sebelumnya telah memerintah Suriah selama lebih dari 50 tahun.
Hafez Assad sang ayah berkuasa sejak 1971.
Setelah ia wafat, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Bashar, pada tahun 2000.
Pemerintahan otokratis Assad memicu pemberontakan rakyat pada 2011, yang kemudian berubah menjadi perang saudara selama hampir 14 tahun.
Namun pada 8 Desember 2024, serangan kilat yang dipimpin kelompok milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyebabkan rezim Assad tumbang dengan perlawanan yang sangat minim.
Assad dan keluarganya kemudian melarikan diri ke Rusia.
Pada Januari 2025, ketua HTS, Ahmad al-Sharaa, ditunjuk sebagai presiden sementara Suriah.
Kini setahun berlalu, apa saja yang sudah dan belum berhasil dicapai Suriah?
Berikut rangkumannya, dilansir DW.
Keamanan dan Stabilitas
Suriah kini tidak lagi menghadapi bom barel yang dijatuhkan dari helikopter atau serangan udara Rusia terhadap fasilitas medis.
Namun, sebagaimana disampaikan dalam pengarahan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) pada November, Suriah masih berjuang menghadapi kondisi keamanan yang terfragmentasi.
Baca juga: Presiden Suriah Al-Sharaa Kecam Agresi Israel dan Bahas Pemilu 5 Tahun
Ibu kota Damaskus relatif tenang.
Menurut Syria Weekly, tingkat kekerasan juga menurun.
Meski demikian, bentrokan antara pasukan keamanan pemerintah baru dengan kelompok lain, termasuk komunitas Kurdi dan Druze Suriah, masih terjadi, menurut laporan DK PBB.
Baca tanpa iklan