Satu Tahun setelah Jatuhnya Assad, Apa Saja yang Berubah di Suriah?
Setahun setelah tumbangnya rezim Bashar al-Assad, ekonomi Suriah perlahan pulih, tetapi masalah keamanan masih terus mengintai.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Menurut Dewan Pengungsi Norwegia, banyak keluarga kembali hanya untuk menemukan rumah mereka telah menjadi puing-puing.
Pada November, Komite Penyelamatan Internasional melaporkan lebih dari separuh jaringan air dan empat dari lima jaringan listrik di Suriah rusak berat atau tidak berfungsi.
Biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai 250–400 miliar dolar AS, atau bahkan lebih.
Meski begitu, upaya pemulihan terus berjalan.
Analisis Mercy Corps berdasarkan citra satelit menunjukkan peningkatan produksi listrik, meski distribusinya belum merata.
Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa 823 sekolah telah direnovasi dan pekerjaan pada 838 sekolah lainnya masih berlangsung.
Ekonomi
Banyak warga yang kembali juga menghadapi kesulitan mencari pekerjaan, karena perang saudara menghancurkan ekonomi Suriah.
Saat ini sekitar seperempat penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Namun ada tanda-tanda perbaikan.
Laporan Bank Dunia pada Juli memperkirakan, ekonomi Suriah akan tumbuh sekitar 1 persen pada 2025.
Banyak sanksi era Assad telah dicabut, baik secara permanen maupun sementara, sehingga membuka ruang bagi pemulihan ekonomi.
Dukungan finansial dari negara-negara seperti Arab Saudi dan Qatar, melalui kesepakatan investasi bernilai miliaran dolar, juga diperkirakan dapat membantu.
Meski begitu, seperti dicatat Tahrir Institute for Middle East Policy, dampaknya pada kehidupan sehari-hari warga Suriah belum terasa signifikan.
Warga Suriah Ramaikan Jatuhnya Assad di Masjid Umayyad Damaskus
Bahkan sebelum tanggal 8 Desember, warga Suriah sudah membanjiri kompleks Masjid Umayyad untuk merayakan penggulingan Assad.
Dilansir Al Jazeera, kerumunan orang, termasuk anak-anak, mengibarkan bendera Suriah, diiringi kembang api yang menghiasi langit.
Seorang warga bernama Abu Taj (24) mengungkapkan kebahagiaannya menjelang satu tahun tanpa Assad.
Sepuluh tahun sebelumnya, Abu Taj meninggalkan rumahnya di pedesaan Aleppo setelah rumahnya hancur dalam pertempuran antara rezim dan kelompok anti-Assad.
Ia kemudian melarikan diri ke Damaskus dan Beirut sebelum akhirnya terbang ke Arab Saudi untuk bergabung dengan ayahnya.
Setelah satu dekade di pengasingan (delapan tahun di Arab Saudi dan dua tahun belajar di Mesir) Abu Taj kembali ke Suriah.
Ia tiba lebih dari seminggu sebelum warga dari seluruh negeri berkumpul untuk merayakan operasi yang merebut Damaskus dan memaksa Bashar al-Assad melarikan diri ke Rusia.
Pada Jumat (5/12/2025), hari Jumat terakhir sebelum peringatan tersebut, Abu Taj salat di Masjid Umayyad sebelum bergabung dengan kerumunan di titik pertemuan utama Damaskus untuk menyaksikan perayaan.
"Budaya negara ini kini untuk rakyat," ujarnya kepada Al Jazeera, menunjukkan antusiasmenya terhadap arah baru yang ditempuh Suriah.
Beberapa hari sebelum massa tumpah ruah di Lapangan Umayyah, terlihat jelas betapa besar arti kejatuhan rezim bagi banyak warga Suriah.
Di seluruh penjuru kota, bendera hijau, putih, dan hitam dipasang di berbagai sudut.
Di luar Masjid Umayyad, wajah anak-anak dicat dengan garis-garis vertikal hijau, putih, dan hitam, sementara di Lapangan Marjeh, penduduk setempat membuka kantong berisi bendera untuk dijual atau dibagikan.
Meskipun hampir seluruh kota dihiasi warna-warna revolusi, Lapangan Umayyah menjadi pusat utama perayaan.
Perayaan dimulai Jumat sore ketika ribuan pemuda dan pemudi menaiki minivan atau skuter menuju bundaran bersejarah kota, tempat puing-puing serangan Israel terhadap Kementerian Pertahanan pada Juli lalu masih terlihat.
Kemeriahan terus berlangsung hingga Sabtu dini hari.
Pada Sabtu sore, badai petir dan hujan deras mengguyur Damaskus.
Banyak warga tetap datang, membawa kenangan pahit selama hidup di bawah Assad, sekaligus harapan bahwa masa depan akan sedikit lebih baik.
Berdiri di Lapangan Umayyah pada Jumat itu, Rahma al-Taha, seorang pengacara, mengatakan bahwa hari-hari pertama setelah pembebasan terasa kurang aman, namun perlahan situasinya membaik selama setahun terakhir.
Baca juga: Netanyahu Tinjau Medan Perang di Suriah Selatan, Tegaskan Israel Bisa Bertindak “Kapan Saja”
“Semuanya membaik, dan setiap bulan kami melihat hal-hal baru,” ujarnya.
Rahma mencerminkan perasaan banyak warga yang berbicara kepada Al Jazeera, perasaan yang menurut mereka tidak mungkin diungkapkan secara terbuka selama rezim al-Assad.
“Ada harapan," ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan