Satu Tahun setelah Jatuhnya Assad, Apa Saja yang Berubah di Suriah?
Setahun setelah tumbangnya rezim Bashar al-Assad, ekonomi Suriah perlahan pulih, tetapi masalah keamanan masih terus mengintai.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Pasukan pro-Assad juga dilaporkan masih beroperasi secara terselubung.
Kebangkitan kembali kelompok ekstremis ISIS turut menjadi ancaman, memanfaatkan celah keamanan yang belum stabil.
Laporan terbaru Badan Uni Eropa untuk Suaka (EUAA) menyebut, otoritas baru Suriah belum memegang kendali sepenuhnya atas negara tersebut.
"Insiden pelanggaran hukum, kriminalitas, dan kekerasan pembalasan terus dilaporkan," tulis lembaga itu.
Keadilan Transisi Kurang Didukung Pemerintah Pusat
Salah satu penyebab kekerasan yang masih berlangsung adalah aksi balas dendam terhadap individu yang dianggap kolaborator rezim Assad.
Karena itu, mekanisme keadilan transisional menjadi sangat penting, menurut Pusat Keadilan dan Akuntabilitas Suriah (SJAC) dalam laporan September lalu.
Pada Mei, pemerintah mendirikan dua komisi independen, satu untuk mencari ribuan warga Suriah yang masih hilang pascaperang, dan satu lagi untuk menyelidiki kejahatan rezim Assad.
Menurut SJAC, komisi pertama adalah yang paling aktif, sementara komisi kedua tidak berkembang karena minim dukungan dari pemerintah pusat.
Kelompok HAM seperti Human Rights Watch juga mengkritik Komisi Nasional untuk Keadilan Transisi Suriah karena hanya menyelidiki kejahatan pemerintah Assad, dan tidak menyentuh pelanggaran yang diduga dilakukan kelompok lain, termasuk HTS dan sekutunya.
Politik
Suriah menggelar pemilu parlemen pertamanya yang relatif bebas awal tahun ini.
Karena kondisi belum memungkinkan, pemilu tidak dilakukan sepenuhnya secara langsung, melainkan sebagian melalui sistem elektoral.
Al-Sharaa tetap menjabat sebagai presiden sementara hingga konstitusi baru disahkan.
Baca juga: Trump Wanti-Wanti Israel, Minta PM Netanyahu Jangan Sentuh Suriah
Saat ini Suriah sedang menyusun konstitusi baru dan telah menggelar dialog nasional untuk membahasnya, meski perbedaan pandangan antara pemerintah sementara dan berbagai komunitas masih tajam.
Para kritikus menilai al-Sharaa semakin mengonsolidasikan kekuasaan dan menunjukkan kecenderungan otoriter.
Untuk saat ini, analis memilih sikap “tunggu dan lihat”.
Baca tanpa iklan