Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Gempa Aomori Jepang Terdeteksi 3 Detik Lebih Cepat Berkat Sensor Bawah Laut

Gempa Aomori terdeteksi 3 detik lebih cepat berkat S-Net, jaringan sensor bawah laut Jepang yang mempercepat peringatan gempa dan tsunami

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Gempa Aomori Jepang Terdeteksi 3 Detik Lebih Cepat Berkat Sensor Bawah Laut
HO/IST
GEMPA AMORI -  Sistim jaringan S-Net (Seafloor Observation Network for Earthquakes and Tsunamis), jaringan sensor bawah laut Jepang paling canggih  

Ringkasan Berita:
  • Gempa Aomori 8 Desember 2025 dapat disampaikan ke masyarakat 3 detik lebih cepat berkat S-Net, jaringan sensor bawah laut tercanggih milik Jepang 
  • Sistem ini mendeteksi gempa langsung dari dasar laut melalui kabel serat optik, lalu mengirim data real time ke Badan Meteorologi Jepang untuk peringatan dini
  • Dibangun pascatragedi 2011, S-Net kini menjadi pilar utama mitigasi bencana Jepang.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Gempa Aomori 8 Desember 2025 jam 23.15 lalu ternyata dapat terdeteksi dan disampaikan ke mayarakat 3 detik lebih cepat.

Hal itu ternyata berkat sistim S-Net jaringan bawah laut Jepang yang bisa mendeteksi gempa bumi lebih awal.

"Jepang terus memperkuat sistem mitigasi bencana dengan mengandalkan S-Net (Seafloor Observation Network for Earthquakes and Tsunamis), jaringan sensor bawah laut canggih yang dirancang untuk mendeteksi gempa bumi dan tsunami secara lebih cepat dan akurat," ungkap sumber Tribunnews.com di kementerian dijital Jepang minggu lalu.

 Berkat sistim ini gempa di Aomori 8 Desember 2025 bisa terdeteksi dan dapat  disebarluaskan ke masyarakat 3 detik lebih cepat daripada sebelumnya.

"S-Net merupakan jaringan pemantauan gempa dan tsunami terbesar di dunia yang dipasang di dasar laut sepanjang pesisir Pasifik Jepang, terutama di wilayah Tohoku hingga Kanto, kawasan yang rawan gempa megathrust," tambahnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Sistem ini dikembangkan pascatragedi gempa dan tsunami besar 11 Maret 2011 yang menewaskan lebih dari 18 ribu orang dan memicu krisis nuklir Fukushima. Sistim ini mulai operasional penuh sejak 2018.

Baca juga: Google AI Tuai Kritik Keras di Jepang usai Beri Info Salah saat Gempa Aomori Terjadi

Deteksi Lebih Cepat dari Dasar Laut

Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan sensor di darat, S-Net menggunakan seismometer dan sensor tekanan air laut yang terhubung melalui kabel serat optik di dasar laut. Dengan teknologi ini, pergerakan lempeng dan perubahan tekanan laut dapat terdeteksi beberapa menit lebih cepat, waktu yang sangat krusial untuk evakuasi warga pesisir.

Data dari S-Net dikirim secara real time ke pusat pemantauan dan dimanfaatkan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA) untuk mengeluarkan peringatan dini gempa dan tsunami.

Dibangun untuk Menghindari Keterlambatan Peringatan

Pemerintah Jepang menilai bahwa pada bencana 2011, keterbatasan sensor darat menyebabkan peringatan tsunami tidak cukup cepat untuk menyelamatkan banyak korban. S-Net dirancang untuk menutup celah tersebut dengan mendeteksi sumber gempa langsung dari laut, lokasi awal terjadinya gempa besar.

Jaringan ini dikelola oleh National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED) bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC).

Pilar Mitigasi Bencana Jepang

S-Net kini menjadi salah satu pilar utama strategi mitigasi bencana Jepang, bersama sistem peringatan dini gempa darat dan simulasi tsunami. Para ahli menilai sistem ini sangat penting menghadapi potensi gempa besar Palung Jepang dan Palung Nankai di masa depan.

Pemerintah Jepang berharap dengan pemanfaatan S-Net, jumlah korban jiwa akibat gempa dan tsunami dapat ditekan seminimal mungkin, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas