UNOSSC: Kerja Sama Selatan–Selatan dan Triangular Jadi Pilar Baru Pembangunan Global
Skema ini melibatkan dua atau lebih negara berkembang dengan dukungan mitra ketiga, yang dapat berasal dari negara maju dan PBB
Penulis: Hasiolan E.P.G
UNOSSC: Kerja Sama Selatan–Selatan dan Triangular Jadi Pilar Baru Pembangunan Global
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah lanskap pembangunan global yang kian kompleks dan saling terhubung, kerja sama Selatan–Selatan (South-South Cooperation) serta kerja sama triangular semakin menempati posisi strategis bagi negara-negara Global South.
Dinamika ini disoroti oleh Direktur United Nations Office for South-South Cooperation (UNOSSC), Dima Al-Khatib, yang menilai kedua skema kolaborasi tersebut menjadi pilar penting dalam menjawab tantangan pembangunan lintas negara.
Baca juga: Prabowo Usul Compact Ekonomi Selatan–Selatan di BRICS, Dorong Akses Perdagangan Negara Berkembang
Dima menjelaskan kalau menguatnya kerja sama Selatan–Selatan dan triangular tidak dapat dilepaskan dari perubahan konteks pembangunan global, termasuk tren penurunan aliran Official Development Assistance (ODA).
Kondisi ini mendorong negara-negara berkembang untuk semakin mengandalkan kolaborasi berbasis solidaritas, kesetaraan, serta kepentingan bersama.
“Banyak negara sebenarnya telah lama mempraktikkan kerja sama Selatan–Selatan dan triangular, meskipun tidak selalu menggunakan terminologi tersebut. Kerja sama regional, misalnya, pada dasarnya merupakan ruang pertukaran pengalaman, pembelajaran setara, dan pembiayaan bersama,” ujar Dima.
Ia menegaskan bahwa tren ini diperkirakan akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya kebutuhan untuk menangani tantangan lintas batas—mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan—secara kolektif.
Kerja Sama Triangular sebagai Model Kemitraan Baru
Dalam paparannya, Dima menekankan bahwa kerja sama triangular semakin relevan sebagai model kemitraan generasi baru.
Skema ini melibatkan dua atau lebih negara berkembang dengan dukungan mitra ketiga, yang dapat berasal dari negara maju, entitas PBB, bank pembangunan multilateral, kalangan akademisi, maupun sektor swasta.
“Kerja sama triangular berlandaskan prinsip solidaritas, berbasis permintaan, dan kesetaraan. Pendekatan ini tidak hanya melengkapi kerja sama Selatan–Selatan, tetapi juga menyediakan platform yang efektif untuk memadukan keahlian dan sumber daya dari berbagai aktor,” katanya.
Dalam konteks tersebut, sistem multilateral—termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa—memegang peran krusial sebagai fasilitator di tingkat nasional, regional, hingga global.
Pengalaman Indonesia dan Pertukaran Praktik Terbaik
Menyoroti pengalaman Indonesia dalam kerja sama Selatan–Selatan dan triangular, Dima menilai sejumlah inisiatif memiliki nilai strategis yang tinggi.
Salah satunya adalah kerja sama di bidang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi antara Indonesia dengan Filipina, Laos, dan Kamboja, yang didukung oleh UNFPA.
“UNFPA merupakan salah satu entitas PBB yang sangat aktif dalam mendukung kerja sama Selatan–Selatan dan triangular. Inisiatif seperti ini menjadi konten berharga bagi platform pengetahuan UNOSSC, karena dapat ditawarkan sebagai solusi yang telah teruji bagi negara lain dengan tantangan serupa,” jelasnya.
Dampak Global dan Peluang bagi Asia
Berbagai proyek kerja sama triangular di sejumlah kawasan—mulai dari pengembangan mobilitas listrik di Amerika Tengah hingga sistem penyediaan air bertenaga surya di Somalia—menunjukkan bahwa kemitraan yang lebih luas mampu menghasilkan dampak pembangunan yang lebih kuat.