Ukraina Mau Lupakan NATO asalkan Dapat Jaminan Keamanan Barat
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dikabarkan mau melepas ambisi Ukraina bergabung NATO, namun harus mendapat jaminan keamanan dari Barat.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali menuntut agar Ukraina secara resmi melepaskan ambisinya untuk bergabung dengan NATO.
Ia juga menuntut agar Ukraina menarik pasukannya dari sekitar 10 persen wilayah Donbas yang masih dikuasai Ukraina.
Selain itu, Ukraina harus menjadi negara netral, dan tidak ada pasukan NATO yang dapat ditempatkan di sana.
Mundurnya Ukraina dari keinginan tersebut telah memenuhi salah satu tujuan perang Rusia.
Ukraina yang mendapat tekanan dari mitra Barat-nya telah menunjukkan perubahan sikap yang lebih lunak.
Meski berupaya mengesampingkan ambisi NATO-nya, Ukraina belum menyerah dengan tuntutan untuk menyerahkan wilayahnya, lapor The Guardian.
Update Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1391 pada Senin (15/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.
Perang Rusia–Ukraina yang meletus pada 2022 berakar pada dinamika pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991, yang melahirkan Rusia dan Ukraina sebagai negara berdaulat.
Sejak saat itu, Ukraina berada di persimpangan pilihan geopolitik: mempertahankan kedekatan dengan Moskow atau mempererat hubungan dengan Barat.
Memasuki awal 2000-an, Kyiv semakin menunjukkan orientasi untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, langkah yang dipandang Rusia sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional dan pengaruhnya di kawasan.
Perbedaan orientasi politik, perebutan identitas kebangsaan, serta sengketa wilayah kian memperuncing relasi kedua negara.
Ketegangan memuncak pada 2014 saat Revolusi Maidan menggulingkan presiden Ukraina yang dianggap pro-Moskow, disusul aneksasi Krimea oleh Rusia dan dukungan Moskow terhadap kelompok separatis di Donbas.
Upaya diplomasi yang ditempuh tak membuahkan hasil hingga Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 24 Februari 2022.
Dalam pidatonya, Presiden Vladimir Putin menyebut serangan itu bertujuan melindungi warga Donbas, mencegah ancaman militer dari Ukraina, menolak ekspansi NATO ke timur, serta sebagai bentuk pembelaan diri Rusia.
Langkah tersebut memicu kecaman luas dari komunitas internasional, dengan negara-negara Barat merespons melalui dukungan politik dan bantuan militer besar-besaran kepada Kyiv.
Baca tanpa iklan