Antara 'Stranger Things' dan Perang Nyata: Kisah Warga Venezuela Terjebak di Tengah Bom Caracas
Bagi warga Venezuela, operasi militer tak terduga oleh Amerika Serikat adalah awal mimpi buruk yang mengerikan
Penulis:
Dodi Esvandi
"Saya berdoa kepada Tuhan agar kami tidak menjadi korban," bisiknya. "Ini bukan lagi soal menunggu orang-orang asing datang. Mereka sudah tiba."
Baca juga: Malam Oranye di La Guaira: Kisah Warga Venezuela Berlarian ke Gunung saat Tentara Amerika Menyerang
Roller Coaster Emosi di Tengah Kobaran Api
Di Cerro Caído, tepat di depan pelabuhan La Guaira, María Lourdes, pekerja berusia enam puluh tahun, juga menyaksikan kengerian itu. "Saya melihat bom-bom berjatuhan," katanya.
Dampaknya, suaranya yang mengerikan, dan deru baling-baling helikopter yang tak terlihat dalam kegelapan. Bulan purnama sekalipun tak mampu menembus kabut kepanikan.
Kemudian, ia melihat cahaya-cahaya bergerak berbaris. Putranya menyebutnya: drone.
Di bukit itu, hampir semua orang keluar, ponsel di tangan, merekam, menelepon. "Kita sedang menjadi bagian dari sesuatu yang bersejarah."
Emosi María Lourdes bergelombang. Gugup, khawatir, disusul kegembiraan yang aneh, lalu kesedihan mendalam. "Rasanya seperti naik roller coaster," jelasnya.
María membenci Maduro, tak pernah mendukungnya. Namun, melihat pelabuhan La Guaira, tempat para pria di keluarganya bekerja, kini terbakar, sungguh menyakitkan.
"Penolakan untuk mengakui hasil pemilihan presiden adalah katalisator dari semua ini," tegasnya.
"Kami adalah korban dari mereka yang menyalahgunakan kekuasaan, dan juga dari seorang pemimpin seperti Donald Trump, yang ada di sini bukan hanya untuk membantu Venezuela, tetapi demi kesepakatan minyak. Yang saya minta kepada Tuhan hanyalah agar ini segera terselesaikan. Agar ini tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya," imbuh María.
Ulang Tahun Ibu di Tengah Kegelapan
Di Monte Piedad, distrik 23 de Enero, Caracas barat, Patricia, seorang kreator konten, tak bisa merayakan ulang tahun ibunya.
Listrik padam sejak pukul 02:00 pagi. Ia tahu ibunya aman, tetapi komunikasi terputus. Meninggalkan rumah pun terasa berbahaya.
"Saya tinggal sangat dekat dengan Cuartel de la Montaña," kata Patricia.
Pukul 02:14 pagi, suara jauh lebih keras terdengar. "Suaranya seperti datang berderet, sangat, sangat, sangat tinggi, lalu meledak."
Percikan api, kobaran api, keributan. Pemboman berlangsung sekitar satu jam sepuluh menit.
Di 23 de Enero, keberadaan kelompok paramiliter pro-pemerintah lazim, namun mereka tak terlihat saat serangan.