Antara 'Stranger Things' dan Perang Nyata: Kisah Warga Venezuela Terjebak di Tengah Bom Caracas
Bagi warga Venezuela, operasi militer tak terduga oleh Amerika Serikat adalah awal mimpi buruk yang mengerikan
Penulis:
Dodi Esvandi
Di layar, pasukan bertempur melawan monster di tengah ledakan dan tembakan. Tiba-tiba, ledakan nyata menggelegar di luar.
"Suara itu sangat keras," kata Mathias. Ia menghentikan TV, melihat keluar. Gumpalan asap membubung di atas El Rosal.
Ledakan kedua, kilatan oranye raksasa di atas Pangkalan Udara La Carlota, memberinya kesadaran mengerikan: ini bukan petasan.
Jalanan kosong, tetangga memata-matai dari balik jendela gelap, bahkan lampu pohon Natal mereka dimatikan.
Raungan pesawat dan bom terus mengguncang, semuanya berpusat di La Carlota.
"Saya tetap tenang sampai ledakan yang lebih besar mengguncang jendela, membunyikan alarm mobil, dan menerangi Gunung Ávila," ujarnya.
Ketakutan itu nyata. Ia mengisi daya ponsel, mencari senter, lalu secara naluriah menciptakan "bunker" darurat dengan kasur di lorong, tempat teraman di rumahnya.
Dengan piyama, ia duduk di lantai, mengirim pesan kepada keluarga: "Meskipun tampaknya sulit dipercaya, jelas sekali mereka sedang membom Caracas."
Ketakutan di Tepian Karibia
Di Marapa Marina, Catia La Mar, dekat Laut Karibia, Gabriela terbangun pukul 02:00 pagi oleh suara yang tak dikenali.
Bukan guntur, bukan mimpi. Jendelanya bergetar.
Ia melihat ke luar, dan saat itulah sentakan ketakutan menjalar ke tubuhnya. "Saya membeku," kenangnya.
Sebuah suara mendesing memecah keheningan. Ia melihat sesuatu berwarna oranye jatuh dari langit, langsung menuju Dataran Tinggi Mamo, instalasi militer penting. Detik berikutnya, ledakan.
"Saya tidak tahu dari mana asalnya, tetapi saya tahu itu adalah serangan militer. Dan saya takut, sangat takut akan nyawa saya, akan keluarga saya."
Pesan WhatsApp mengonfirmasi kengerian: serangan serupa terjadi di pelabuhan La Guaira dan Naiguatá.
Gabriela tak bisa lagi tidur. Lumpuh karena ketakutan, dari jendela—kursi baris terdepannya—ia menyaksikan lebih banyak ledakan.