Antara 'Stranger Things' dan Perang Nyata: Kisah Warga Venezuela Terjebak di Tengah Bom Caracas
Bagi warga Venezuela, operasi militer tak terduga oleh Amerika Serikat adalah awal mimpi buruk yang mengerikan
Penulis:
Dodi Esvandi
"Tidak ada bus yang lewat saat ledakan terjadi," kenang Patricia. "Beberapa saat kemudian, saya mendengar beberapa bus lewat dan mereka berteriak bahwa mereka akan membela revolusi, meminta dukungan rakyat. Tetapi tidak ada tanggapan; semua orang berlari dan bersembunyi di rumah mereka."
Bahkan para pria yang sedang minum pun seketika sadar karena syok.
Keheningan Pasca-badai
Suara dentuman keras yang menghentikan jam pukul 01:58 pagi di rumah Josefina jelas bukan "tumbarranchos"—kembang api yang biasa menyiksa warga Caracas.
Ini lebih dahsyat. Pesan WhatsApp dan catatan suara mulai membanjiri, mengabarkan pemadaman listrik dan internet.
"Jendela-jendela di rumahku bergetar," kata seorang teman Josefina dari La Pastora.
Sekitar pukul 02:10 pagi, keraguan sirna: gambar-gambar tragedi mulai viral di media sosial.
Dari Los Palos Grandes, Chacao, kobaran api dan asap terlihat menyebar ke barat Caracas, sementara ledakan dahsyat berulang kali mengguncang pangkalan udara La Carlota. Jalanan di Chacao sepi, tanpa patroli polisi.
Pemboman berlangsung sekitar dua jam, setelah itu keheningan total menyelimuti kota hingga fajar.
Antrean Makanan di Farmatodo
Ketika matahari pertama muncul, Farmatodo di Altamira sudah ramai. Antrean kendaraan drive-thru memanjang.
Namun, bukan obat-obatan yang dicari, melainkan makanan kaleng. Tepung PAN, air minum, tisu toilet ludes diborong, cerminan pembelian panik yang sudah menjadi hal lumrah di Venezuela.
Gomez, seorang lansia, berdiri di antara kendaraan, sabar menunggu untuk membeli obat metforminnya.
Permintaannya terdengar janggal di tengah hiruk-pikuk orang yang memburu persediaan. Ia menunggu satu setengah jam untuk dua kotak obat.
Beberapa jam kemudian, antrean panjang kembali terbentuk di toko-toko yang masih buka.
Itulah pemandangan Caracas pada 3 Januari 2026. Sebuah kota yang terjaga, ketakutan, dan dipaksa menyaksikan nasibnya ditentukan oleh api oranye yang menghujani langit dini hari.