Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kebijakan Hidup Berdampingan yang Tertib Dipertanyakan Profesor Jepang

Akademisi kritik kebijakan asing Jepang yang dinilai tanpa visi integrasi, pekerja tetap diposisikan sebagai penduduk sementara

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Kebijakan Hidup Berdampingan yang Tertib Dipertanyakan Profesor Jepang
Tribunnews.com/Universitas Tokyo
KEBIJAKAN ORANG ASING - Profesor Universitas Tokyo, Kikuko Nagayoshi mengkritik kebijakan baru pemerintah Jepang terkait orang asing yang menekankan prinsip “hidup berdampingan yang tertib” karena kebijakan dinilai tidak memiliki visi jangka panjang mengenai penerimaan orang asing, serta cenderung menyatukan wisatawan, investor, dan penduduk asing dalam satu kategori yang sama, meskipun peran dan hubungan mereka dengan masyarakat Jepang sangat berbeda 

Padahal jumlah penduduk asing di Jepang terus meningkat. Artinya, semakin banyak orang asing tinggal lebih lama, tetapi tidak beralih menjadi penduduk tetap atau warga negara Jepang.

Survei juga menunjukkan kurang dari 40 persen orang asing ingin menetap permanen di Jepang

Hal ini menunjukkan sistem Jepang memang dirancang untuk mempertahankan pola “tinggal sementara”.

Baca juga: Anonim Sumbangkan Emas Batangan Senilai Rp56 Miliar ke Dinas Air Osaka Jepang

Jepang fokus pada pekerja dan pelajar

Perbandingan internasional berdasarkan data OECD menunjukkan karakter khas Jepang.

Negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda menerima berbagai jenis migran—termasuk reunifikasi keluarga dan pengungsi. Jepang sebaliknya sangat fokus pada pekerja dan pelajar, dengan penerimaan kategori lain sangat terbatas.

Akibatnya, orang asing di Jepang lebih sering diposisikan sebagai tenaga kerja sementara.

Rekomendasi Untuk Anda

Banyak bekerja non-reguler, rentan saat krisis ekonomi

Data sensus 2020 menunjukkan tingkat pekerjaan non-reguler jauh lebih tinggi pada pekerja asing.

Pria Jepang non-reguler sekitar 14 persen, warga Brasil sekitar 53 persen, warga Indonesia sekitar 45 persen dan Vietnam, Nepal, Peru sekitar 40 persen.

Pekerjaan non-reguler lebih rentan terhadap pemutusan kerja saat ekonomi memburuk. Dampaknya terlihat jelas saat krisis finansial global dan pandemi COVID-19.

Dalam jangka panjang, upah rendah dan pekerjaan tidak stabil juga dapat menyebabkan pendapatan pensiun yang tidak mencukupi pada usia tua.

Dampak pada generasi anak dan risiko perpecahan sosial

Anak-anak warga asing semakin banyak melanjutkan sekolah menengah, tetapi tingkat putus sekolah masih tinggi dan akses pendidikan tinggi tetap menjadi tantangan.

Jika kesempatan tidak setara, maka ketimpangan sosial berdasarkan kewarganegaraan dapat diwariskan antar generasi.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas