Gencatan Senjata Rapuh Seumur Jagung, Perang AS Vs Iran Bisa Berlanjut
Pejabat Iran memperingatkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara terkendali akan segera berakhir jika pelanggaran terus berlanjut.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran setelah 40 hari perang dinilai rapuh dan hanya menjadi awal negosiasi, dengan kedua pihak tetap saling curiga.
- Upaya diplomasi dipercepat melalui pertemuan tingkat tinggi di Pakistan, sementara Inggris menilai kesepakatan ini masih tahap awal dan perlu dijaga demi stabilitas.
- Di sisi lain, Iran memperingatkan Israel agar tidak melanggar kesepakatan karena kegagalan gencatan senjata berpotensi memicu kembali perang.
TRIBUNNEWS.COM, AS - Setelah 40 hari perang di Timur Tengah, Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu dimulai pada hari Selasa (8/4/2026) kemarin.
"Gencatan senjata yang 'rapuh' hanya bersifat sementara namun merupakan titik awal untuk negosiasi lebih lanjut," demikian CNN melaporkan.
Baik Iran maupun AS memiliki alasan kuat untuk mengakhiri perang.
Tetapi penjelasan mereka ke publik sangat berbeda.
Dua minggu tersisa untuk mencoba mencapai kesepakatan antara kedua pihak yang tidak saling percaya.
Wakil Presiden AS JD Vance menggambarkan gencatan senjata itu sebagai "gencatan senjata yang rapuh".
"Itu adalah penilaian yang realistis," demikian BBC melaporkan.
Dua pihak klaim menang perang
Klaim yang kurang realistis datang dari kedua belah pihak karena secara bersamaan mereka mengklaim kemenangan, sama-sama mengklaim memenangkan perang.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan di Pentagon bahwa itu adalah "kemenangan militer besar" bagi Amerika Serikat yang "bersejarah dan luar biasa".
Klaim yang sama bombastisnya juga datang dari Teheran, dimana rezim tersebut juga mengklaim kemenangan telak.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, mengatakan di media sosial bahwa "dunia telah menyambut pusat kekuasaan baru, dan era Iran telah dimulai".
Dewan Keamanan Tertinggi Iran dalam publikasiknya di media-media Iran bahkan sesumbar AS menyetujui semuai 10 poin proposal yang diajukan negara itu.
Tergantung diplomasi akhir pekan ini
Gedung Putih bergerak cepat menuju diplomasi, Presiden AS Donald Trump mengirimkan tim tingkat tinggi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk putaran pertama pembicaraan AS-Iran pada hari Sabtu ini.
Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan Vance akan didampingi oleh penasihat senior Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff untuk negosiasi dengan Iran di Islamabad.
“Putaran pertama pembicaraan tersebut akan berlangsung pada Sabtu pagi waktu setempat dan kami tahu kami menantikan pertemuan tatap muka tersebut,” kata Leavitt kepada wartawan.
Baca tanpa iklan