Harga Sarung Tangan Medis Melejit, Jadi Barang Langka di Pasar Asia Gegara Perang Iran
Harga sarung tangan medis melonjak hingga 40 persen akibat perang Iran. Pasokan terganggu, layanan kesehatan di Asia terancam terdampak.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM - Lonjakan harga sarung tangan medis mulai dirasakan di berbagai negara Asia seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.
Gangguan rantai pasok global membuat alat kesehatan penting semakin sulit diperoleh, memicu kekhawatiran akan krisis layanan medis dalam waktu dekat.
Jepang menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampaknya, terutama di tingkat klinik dan rumah sakit.
Klinik-klinik di Jepang melaporkan kesulitan mendapatkan sarung tangan, jarum suntik, hingga selang infus.
Bahkan jika tersedia, harga yang melonjak membuat banyak fasilitas kesehatan tidak mampu membelinya.
Menurut data yang dikumpulkan analis riset ekuitas CIMB Securities, Oong Chun Sung sebagaimana dikutip dari Financial Times, harga sarung tangan sintetis rata-rata naik sekitar 40 persen, mencapai 29 dolar AS setara Rp497.000 per kotak berisi 1.000 unit.
Sementara produsen terbesar dunia, Top Glove, menyatakan sedang meneruskan kenaikan biaya produksi sekitar 50 persen yang dipicu oleh lonjakan harga bahan baku, terutama nitrile latex yang digunakan dalam sekitar 55 persen produk sarung tangan mereka.
Hal serupa terjadi pada produsen Hartalega Holdings yang menyebutkan bahwa harga sarung tangan telah disesuaikan seiring meningkatnya biaya input, dan memperingatkan potensi gangguan pasokan global jika konflik berkepanjangan.
Perusahaan Medtecs yang berbasis di Singapura dan Taiwan juga telah menaikkan harga produk medis seperti masker dan gaun bedah sebesar 10 persen hingga 40 persen, tergantung jenis produk.
Kondisi ini berpotensi memaksa tenaga medis membatasi layanan kepada pasien, termasuk menunda tindakan medis dasar seperti suntikan dan infus.
Dalam skenario terburuk, beberapa klinik kecil terancam tidak dapat beroperasi secara optimal.
Mengantisipasi terjadinya situasi itu, pemerintah Jepang bergerak cepat dengan menyiapkan langkah darurat.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana distribusi sekitar 50 juta sarung tangan medis dari cadangan pandemi. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan di tengah meningkatnya permintaan dan keterbatasan distribusi.
Namun, langkah tersebut dinilai hanya sebagai solusi jangka pendek. Sejumlah fasilitas kesehatan melaporkan bahwa stok alat medis mereka diperkirakan hanya cukup untuk satu hingga dua bulan ke depan jika situasi tidak segera membaik.
Baca juga: Dampak Perang Iran, Eropa Diprediksi Hanya Punya Persediaan Bahan Bakar Jet untuk 6 Minggu Lagi
Pasar Asia Ikut Terdampak
Tak hanya di Jepang. Negara-negara Asia lainnya mulai mulai merasakan dampaknya. Bahkan di Korea Selatan, pemerintah telah mengeluarkan peringatan terkait potensi penimbunan dan praktik manipulasi harga.
Baca tanpa iklan