Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis
Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Wakil Kepala Markas Koordinasi Tawanan Perang Ukraina, Andrii Yusov, mengatakan Rusia sengaja memberi sinyal kesiapan menyerang lalu menunda serangan untuk meningkatkan ketegangan dan tekanan psikologis ke warga Ukraina.
- Sementara itu, Rusia mengklaim tidak menyerang Kyiv pada akhir pekan karena "gencatan senjata Hari Trinitas", tetapi klaim tersebut dibantah pejabat Ukraina.
- Kepala Kantor Presiden Ukraina Kyrylo Budanov menegaskan tidak ada informasi mengenai gencatan senjata tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.560 pada Selasa (2/6/2026).
Wakil Kepala Markas Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina, Andrii Yusov, mengatakan Rusia memanfaatkan kombinasi tekanan militer dan psikologis dengan memberi sinyal kesiapan untuk menyerang, lalu menunda atau menghentikan serangan tersebut.
"Mengenai serangan, ya, tentu saja, orang-orang sedang mempersiapkan diri untuk serangan, dan mereka benar melakukannya. Kami tidak pernah melakukan latihan siaga serangan udara sejak dimulainya invasi skala penuh. Dan tentu saja ini juga merupakan alat tekanan dan pengaruh psikologis: memberi sinyal kesiapan untuk menyerang, kemudian menunda atau menangguhkan serangan," kata Andrii Yusov.
Menurutnya, taktik ini bertujuan meningkatkan ketegangan dan kelelahan mental warga Ukraina yang telah hidup dalam kondisi perang selama lebih dari empat tahun.
Meski demikian, Yusov menegaskan pasukan keamanan dan pertahanan Ukraina tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menanggapi peringatan serangan udara dengan serius dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku.
Pernyataan itu muncul setelah media Rusia melaporkan bahwa Moskow tidak melancarkan serangan ke Kyiv pada akhir pekan sebagai bagian dari apa yang disebut "gencatan senjata Trinitas".
Ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov, mengklaim usulan tersebut telah disampaikan kepada utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, dan diteruskan kepada Presiden Donald Trump.
Namun, pihak Ukraina membantah klaim tersebut. Penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Dmytro Lytvyn, menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia secara sukarela menunda serangan terhadap wilayah Ukraina.
Baca juga: Zelenskyy Tuduh Rusia Latih Anak-anak Ukraina untuk Lawan Negaranya Sendiri
Ukraina Bantah Klaim Rusia Tunda Serangan karena Gencatan Senjata Hari Trinitas
Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, membantah laporan yang menyebut Rusia menunda serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap Ukraina karena gencatan senjata Hari Trinitas yang diusulkan Kremlin.
Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov, mengklaim Moskow tidak mengeluarkan perintah serangan jarak jauh selama perayaan Hari Trinitas.
Namun, baik Rusia maupun Ukraina tidak pernah secara resmi mengonfirmasi adanya gencatan senjata tersebut.
Budanov menegaskan bahwa dirinya tidak menerima informasi apa pun mengenai rencana penghentian serangan sementara itu.
"Saya belum menerima informasi apa pun mengenai gencatan senjata untuk Minggu Trinitas. Selain itu, Anda dapat melihat seberapa banyak wilayah yang dihantam oleh Federasi Rusia kemarin dan berapa banyak korban jiwa yang ada," ujarnya dalam Forum Arsitektur Keamanan di Kyiv, Senin (1/6/2026).
Sebelumnya, saluran pemantau militer Ukraina telah memperingatkan adanya potensi serangan besar Rusia pada 30–31 Mei, terutama setelah Moskow mengancam akan melancarkan "serangan beruntun dan sistematis" terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina di Kyiv.