Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis
Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Meski serangan skala besar yang diperkirakan itu tidak terjadi, Ukraina menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia benar-benar memberlakukan gencatan senjata selama akhir pekan tersebut, lapor The Moscow Times.
Zelenskyy Ulangi Peringatannya soal Serangan Besar Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali memperingatkan bahwa Rusia tengah mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina.
Zelenskyy mengatakan informasi intelijen mengenai ancaman tersebut masih berlaku dan pasukan pertahanan udara Ukraina saat ini berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan kapan saja.
"Peringatan intelijen tentang serangan Rusia tetap berlaku. Serangan besar-besaran bisa terjadi - mereka telah mempersiapkannya. Pasukan pertahanan udara kita siap 24/7 sebisa mungkin dengan persediaan yang tersedia," kata Zelenskyy, Senin (1/6/2026).
Peringatan itu muncul setelah Rusia mengancam akan memperluas serangan ke Kyiv dan berbagai fasilitas strategis Ukraina.
Ancaman tersebut disampaikan menyusul tuduhan Moskow bahwa Ukraina menyerang gedung pendidikan dan asrama di Starobilsk, wilayah Luhansk yang saat ini diduduki Rusia.
Namun, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa serangan mereka sebenarnya menargetkan markas unit militer Rusia "Rubicon", yang disebut bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap warga sipil Ukraina.
Pada 25 Mei, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan akan melancarkan serangan sistematis terhadap perusahaan-perusahaan industri pertahanan Ukraina, khususnya di Kyiv. Moskow juga mengancam akan menyerang apa yang disebut sebagai "pusat-pusat pengambilan keputusan" dan pos-pos komando militer Ukraina.
Dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Rusia menyampaikan bahwa serangan terhadap berbagai fasilitas di Kyiv merupakan respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia.
Moskow bahkan menyarankan negara-negara asing mempertimbangkan evakuasi personel diplomatik mereka dari Kyiv. Namun, Rubio menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.
Ancaman Rusia mendapat kecaman dari sejumlah negara Barat. Kedutaan Besar Prancis dan Polandia di Kyiv menegaskan tetap menjalankan tugas diplomatiknya seperti biasa dan tidak akan terpengaruh oleh tekanan Rusia. Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Maternova, menyebut ancaman terhadap diplomat sebagai tanda keputusasaan Moskow.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina menilai langkah Rusia sebagai bentuk pemerasan dan eskalasi konflik. Kyiv mendesak para mitra internasional untuk tidak memberikan konsesi kepada Moskow, melainkan meningkatkan dukungan militer dan bantuan pertahanan bagi Ukraina.
Di sisi lain, Kuasa Usaha Amerika Serikat untuk Ukraina, Julie Davis, turut mengecam serangan Rusia terhadap Kyiv yang sebelumnya merusak museum, stasiun metro, bangunan tempat tinggal, dan berbagai objek sipil lainnya.
Ukraina Ingin Akhiri Perang dengan Rusia Sebelum Musim Dingin
Kyrylo Budanov, mantan kepala intelijen Ukraina yang kini menjabat sebagai kepala staf Presiden Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa mengakhiri perang sebelum musim dingin merupakan target yang realistis.
Menurutnya, hal tersebut merupakan instruksi langsung dari Presiden Zelenskyy agar perang segera diakhiri melalui jalur diplomasi maupun negosiasi.