100 Hari Perang AS-Iran: Berulang Kali Hampir Berdamai tapi Selalu Gagal di Detik Akhir
AS dan Iran beberapa kali hampir capai kesepakatan damai dalam 100 hari perang, namun selalu gagal di detik terakhir.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Suci BangunDS
Dari pihak Iran, kedutaan besar di Islamabad menyebut pembicaraan itu “bukan peristiwa tunggal, tetapi sebuah proses”, meski sejak itu tidak ada lagi dialog langsung lanjutan.
Titik Krisis Nuklir Jadi Hambatan Utama
Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah program nuklir Iran.
Negara itu diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang jauh di atas kebutuhan energi sipil, tetapi masih di bawah level senjata.
Iran bersikeras program nuklirnya bersifat damai.
Di sisi lain, AS dan Israel menuduh Teheran mempertahankan kemampuan menuju senjata nuklir.
Perbedaan paling tajam terletak pada pendekatan negosiasi.
Washington menuntut kejelasan penuh sejak awal, sementara Iran ingin detail teknis dibahas bertahap dalam proses lanjutan.
Baca juga: Terjebak di Selat Hormuz selama hampir 100 hari — Hanya ada satu jalan keluar
Menurut analis Naysan Rafati, kegagalan kesepakatan sering terjadi meski kedua pihak sudah sangat dekat.
“Kadang ada 95 persen kesepakatan, tetapi lima persen sisanya justru yang paling sulit,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, perbedaan juga terjadi pada urutan implementasi kesepakatan.
Iran ingin fleksibilitas dalam detail teknis, sementara AS menuntut kepastian sejak awal.
Gencatan Senjata Lebanon dan Eskalasi Baru
Tak lama setelah perundingan gagal, Washington mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan pendapatan minyak Teheran.
Langkah ini justru memperburuk ketegangan dan menghapus momentum diplomasi yang tersisa.
Di saat yang sama, konflik di Lebanon menjadi faktor lain yang memperumit proses damai.
Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat pertempuran intens sejak awal perang.