Eropa Siap Cabut Sanksi Iran, Dunia Sambut Damai Bersejarah AS-Iran
Eropa siap cabut sanksi Iran usai damai AS–Iran tercapai. Dunia sambut positif, harga minyak turun, dan harapan stabilitas global mulai terbuka.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia siap mencabut sanksi terhadap Iran, dengan syarat Iran mematuhi komitmen program nuklir dan pengawasan IAEA.
- Kesepakatan damai ini juga mendapat dukungan dunia internasional, termasuk PBB dan Jepang, karena dinilai membuka peluang stabilitas kawasan, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur energi global yang vital.
- Ekonom menilai kesepakatan ini berpotensi menekan inflasi global dan memperkuat stabilitas ekonomi internasional.
TRIBUNNEWS.COM – Sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi terhadap Iran, Senin (15/6/2026).
Keputusan ini diumumkan setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konflik bersenjata selama lebih dari tiga bulan di Timur Tengah.
Keempat negara yang dikenal sebagai kelompok E4 tersebut menilai perjanjian damai ini sebagai “momen peluang” untuk memulihkan stabilitas kawasan sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi global yang sempat terguncang akibat perang.
Kesepakatan tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang juga berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi. Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Jumat mendatang.
Dalam pernyataan bersama, negara-negara Eropa menegaskan bahwa pencabutan sanksi hanya akan dilakukan jika Iran menjalankan komitmennya, terutama terkait pembatasan program nuklir.
Kelompok E4 menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Mereka juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Amerika Serikat, Iran, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama
Selain isu nuklir, mengutip Reuters, E4 juga menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Jalur pelayaran strategis tersebut sempat terganggu selama konflik dan berdampak pada pasokan energi global.
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menilai kebebasan navigasi di Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga stabilitas perdagangan dunia, terutama sektor minyak dan gas.
Baca juga: Israel Panik AS-Iran Mau Damai, Khawatir Teheran Makin Kuat usai Perang
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut kesepakatan damai ini sebagai langkah maju yang sangat penting dalam mengakhiri perang dan membuka jalan menuju stabilitas jangka panjang.
Sementara itu, sejumlah pemimpin dunia lainnya juga menyambut positif perjanjian tersebut. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyebut kesepakatan ini sebagai langkah penting menuju penyelesaian konflik secara damai.
Dari kawasan Asia, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga menegaskan pentingnya implementasi perjanjian ini, terutama terkait jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Dampak Ekonomi Global Mulai Terasa
Meski pengamat menilai implementasi kesepakatan masih menjadi tantangan utama, terutama dalam memastikan Iran menjalankan komitmennya terkait program nuklir dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Namun Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan dampak langsung terhadap perekonomian global. Salah satunya pasar energi dunia yang memberikan respon cepat dengan penurunan harga minyak internasional secara signifikan.
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan turun sekitar 4 persen menjadi 83 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 4,8 persen ke level 80,8 dolar AS per barel pada perdagangan Senin pagi.
Penurunan ini mencerminkan meningkatnya optimisme pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, seiring meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya sempat mengganggu distribusi minyak dunia.