Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Gangguan Nyeri Berkepanjangan Bisa Picu Depresi

Nyeri menimbulkan gangguan tidur, penurunan produktivitas, tingginya angka bolos kerja, ketidakmampuan beraktivitas, hingga ketergantungan pada orang

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
zoom-in Gangguan Nyeri Berkepanjangan Bisa Picu Depresi
Shutterstock
Nyeri pinggang akibat terlalu lama duduk 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gangguan nyeri dapat menimbulkan dampak besar baik bagi penderita maupun orang-orang di sekitarnya.

Nyeri menimbulkan gangguan tidur, penurunan produktivitas, tingginya angka bolos kerja, ketidakmampuan beraktivitas, hingga ketergantungan pada orang lain.

"Secara psikologik, nyeri berkepanjangan memicu hadirnya depresi, kemarahan, dan ansietas serta dapat mencetuskan kecanduan obat pereda nyeri,” kata dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta, Jumat (11/9/2015).

Mahdian mengatakan, nyeri juga merupakan gangguan yang cukup banyak menghabiskan anggaran kesehatan.

"Sayangnya, nyeri seringkali diabaikan dan hanya dianggap sebagai gejala, bukan sebagai penyakit tunggal yang perlu diobati," katanya.

Nyeri menjadi keluhan tersering saat seseorang ke dokter. Institute of Medicine of The National Academies, mencatat ada 100 juta penduduk Amerika Serikat yang mengalami nyeri setiap tahunnya.

"Angka ini jauh melampaui jumlah penderita diabetes, penyakit jantung koroner, dan kanker yakni sekitar 61 juta penderita per tahun," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosi tidak menyenangkan yang dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan dan atau hal yang berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan.

"Penanganan nyeri bersifat kompleks dan memerlukan pemeriksaan seksama. Penilaian dan pengelolaan nyeri yang tidak mumpuni dapat berujung pada nyeri yang tidak kunjung sembuh," katanya.

Tiap pasien yang mengalami trauma berat atau menjalani pembedahan perlu mendapatkan penanganan nyeri yang sempurna. Jika tidak, nyeri dapat menimbulkan respon stres metabolik (MSR) yang memengaruhi semua sistem di tubuh dan memperberat kondisi pasien.

Derajat nyeri umumnya bersifat individual dan sangat dipengaruhi faktor genetik, latar belakang kultural, umur dan jenis kelamin

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas