Tribun

Virus Corona

Pakar Epidemiologi Sebut Anak Penting Diberikan Vaksin Booster

Pakar Epidemiologi mengatakan sudah waktunya anak diberikan vaksin booster Covid-19.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Erik S
zoom-in Pakar Epidemiologi Sebut Anak Penting Diberikan Vaksin Booster
Shutterstock
(ilustrasi) Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman melihat dari segi kepentingan, sudah waktunya anak diberikan vaksin booster Covid-19. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman melihat dari segi kepentingan, sudah waktunya anak diberikan vaksin booster Covid-19.

Hanya saja dalam konteks strategi vaksinasi berbasis kesehatan masyarakat, yang perlu jadi pertimbangan adalah skala prioritas. 

Baca juga: Capaian di Bawah 30 Persen, Pemerintah Bakal Tancap Gas Vaksinasi Booster Covid-19

"Karena mengingat keterbatasan yang kita miliki. Misalnya keterbatasan jumlah vaksin mRNA dan sisi infrastruktur. Antara lain jumlah vaksinator. Termasuk di sini mengejar dari urgensi waktu," ungkap Dicky pada Tribunnews, Minggu (3/7/2022).

Misalnya, menjelang gelombang keempat yang akan didominasi oleh sub Varian BA.4 dan BA.5. Tentunya harus cepat melindungi kelompok rawan yaitu orang lanjut usia dan komorbid

Serta aspek lain seperti pelayanan publik. Termasuk pada remaja atau anak yang memiliki komorbid. Oleh karena itu booster yang diberikan pada anak, kata Dicky hanya bisa diberikan prioritas pada yang memiliki komorbid.

"Jadi di atas 6 tahun memiliki komorbid. Itu yang menurut saya harus diprioritaskan. Karena menurut saya komorbid ini tidak ada bedanya antara anak dan dewasa," kata Dicky menambahkan.

Kelompok berisiko memang rentan alami keparahan, atau infeksi berulang, atau pun fatalitas. Termasuk anak-anak. Kini negara Amerika dan Israel pun sudah memberlakukan booster Covid-19.

Baca juga: Cakupan Booster Covid-19 dan Penurunan Imunitas Bisa Perparah Mereka yang Terinfeksi 

"Tapi di Australia masih selektif karena mengejar cakupan kelompok lansia dan juga komorbid. Begitu juga kelompok risiko lain. Di sini pun masih selektif pada anak-anak selain kelompok komorbid," pungkas Dicky.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas