Tribun Kesehatan

Cerita Penyiar Radio Rasakan Dampak Buruk Merokok Terhadap Kesehatan

TAR yang terkandung pada asap rokok itu dapat memicu risiko berbagai penyakit berbahaya.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Cerita Penyiar Radio Rasakan Dampak Buruk Merokok Terhadap Kesehatan
warta kota/warta kota/nur ichsan
Penyiar radio dan aktor Bayu Oktara. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyiar radio, Master of Ceremony (MC), dan aktor Bayu Oktara mengaku sempat mengalami dampak negatif sebagai perokok aktif.

Bayu ingin berhenti merokok lantaran sering mengalami sakit tenggorokan. Ia juga sering mendapati adanya lendir di tenggorokannya saat bangun pagi.

“Hal-hal ini sangat menggangu kalau saya harus siaran pagi, shooting, dan nge-MC,” ujar Bayu melalui keterangan tertulis, Senin (26/9/2022).

Baca juga: Rokok Elektrik dan Rokok Kretek Sama Berbahayanya, Ini Tiga Kesamaannya

Bayu juga menyadari bahwa TAR yang terkandung pada asap rokok itu dapat memicu risiko berbagai penyakit berbahaya.

Sebabnya, rokok dibakar sehingga banyak zat berbahaya terkandung dalam asapnya. Hanya saja, ia sering tergoda untuk kembali merokok jika dirinya sedang memiliki waktu senggang, seperti ketika sedang menunggu.

Hal ini yang mendorongnya untuk beralih ke produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik.

Dirinya mengakui bahwa dirinya mulai beralih dari rokok ke produk tembakau alternatif di kisaran tahun 2008 lalu.

Ketika beralih, Bayu mulai merasakan berbagai perubahan.

"Yang saya rasakan itu saya jadi jarang batuk. Lalu, baju dan tangan saya udah tidak bau lagi, jadi lebih tidak menganggu saat ketemu istri dan anak," jelas Bayu.

Kendati demikian, ia menekankan sebelum bertemu dengan keluarga, dirinya tetap menerapkan protokol kebersihan dan kesehatan, seperti mencuci tangan dan membersihkan mulut.

Bayu berpendapat edukasi terkait produk tembakau alternatif dan potensi manfaatnya bagi perokok dewasa itu sangat penting.

Namun ia menyadari saat ini edukasi tersebut masih sangat terbatas dan belum masif, sehingga banyak perokok dewasa yang belum memiliki pemahaman yang akurat tentang produk tersebut.

“Saya berharap akan ada lebih banyak edukasi dan kegiatan yang menyuarakan terkait kehadiran produk tembakau alternatif di Indonesia. Selain itu, edukasi dan kegiatan tersebut juga harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan, utamanya komunitas agar lebih masif lagi pencapaiannya," pungkas Bayu.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas