Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Perawatan Bayi Prematur Kini Utamakan Keterlibatan Orangtua dan ASI

Keberhasilan perawatan bayi prematur merupakan kolaborasi seluruh tim medis, mulai dari perawat, bidan, hingga keterlibatan orang tua.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
zoom-in Perawatan Bayi Prematur Kini Utamakan Keterlibatan Orangtua dan ASI
HO/IST/Istimewa/HO
PENANGANAN BAYI PREMATUR - Dokter spesialis anak konsultan neonatologi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi menyebut pendekatan perawatan bayi prematur di Indonesia kini mulai berubah dengan melibatkan orang tua dalam layanan NICU. Menurut dr Tiwi, keberhasilan perawatan bayi prematur tidak hanya ditentukan kemampuan dokter, tetapi juga kolaborasi tenaga medis, perawat, bidan, dan keluarga pasien. 

Ia menegaskan keberhasilan perawatan bayi prematur tidak cukup diukur dari tingkat keselamatan hidup, tetapi juga kualitas tumbuh kembang anak.

Menurut dr Tiwi, edukasi terhadap orang tua menjadi bagian penting sebelum bayi diperbolehkan pulang. Orang tua perlu memahami tanda bahaya dan cara merawat bayi prematur secara mandiri di rumah.

“Biasanya kalau berat bayi sudah sekitar 1,8 sampai 1,9 kilogram dan kemampuan minumnya baik, kami mulai persiapkan untuk pulang,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengakui angka kematian bayi prematur di sejumlah daerah masih tinggi akibat keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

“Teman-teman dokter yang bertugas di daerah timur sering menyampaikan bahwa dengan fasilitas dan SDM terbatas, sangat sulit mempertahankan bayi-bayi prematur,” katanya.

Menurut dia, tantangan tersebut juga diperparah minimnya edukasi masyarakat terkait risiko kehamilan dan persalinan prematur.

Baca juga: Krisis Kemanusiaan Terburuk di Gaza: Listrik Padam, Bayi Prematur Meninggal di Inkubator

“Masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko persalinan prematur. Bahkan ada yang menolak dirujuk,” ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain faktor fasilitas kesehatan, dr Tiwi menyebut pernikahan usia remaja, infeksi saat kehamilan, hingga kurangnya asupan protein hewani pada ibu hamil turut meningkatkan risiko kelahiran prematur.

“Kehamilan prematur itu kompleks sekali penyebabnya. Karena itu, yang harus dibenahi sebenarnya kesehatan ibunya sejak remaja,” katanya.

Ia juga mengingatkan obesitas pada remaja perempuan dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan di kemudian hari, termasuk kelahiran prematur.

“Kalau kesehatan remajanya tidak baik, nanti saat hamil risikonya juga tinggi, termasuk melahirkan prematur,” ujar dr Tiwi.

Menurut dia, pendampingan psikologis kepada keluarga menjadi bagian penting dalam penanganan bayi prematur karena sebagian besar orang tua mengalami kepanikan saat mengetahui kondisi bayinya.

“Biasanya orang tua pasti panik. Tugas dokter dan perawat adalah mendampingi, menjelaskan kondisinya, dan meyakinkan bahwa bayi tetap punya peluang tumbuh baik dengan perawatan yang tepat,” katanya. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas