Tribun

Gus Halim Sarankan Orang Tua Cermat Memilih Sekolah

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menyarankan para orang tua untuk cermat dalam memilih lembaga pendidikan tepat bagi anaknya

Editor: Content Writer
zoom-in Gus Halim Sarankan Orang Tua Cermat Memilih Sekolah
Dok. Sigit Purwanto/ Humas Kemendes PDTT
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Teringgal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar menghadiri peresmian gedung SMPI Al-Ashifa, Desa Brodot, Kec. Bandarkedungmulyo, Kab. Jombang, Sabtu (25/06/22). 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar menyarankan para orang tua untuk cermat dalam memilih lembaga pendidikan tepat bagi anaknya. Hal demikian agar pendidikan anak tidak menyimpang dari ajaran agama serta terus terjaga dari paham ekstrimisme.

"Saat ini lembaga pendidikan semakin banyak. Harus kudu hati-hati milih lembaga pendidikan. Jangan salah pilih pendidikan. Jangan sampai menyimpang dari ajaran agama," ungkap Gus Halim sapaan akrabnya dalam acara Haflah Paud yayasan Pendidikan Akhirussanah di desa Brodot, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (25/6/2022).

Menurutnya, wali murid harus benar - benar memahami indentitas sekolah dan karakteristik lembaga pendidikan, sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan tertentu. 

"para orang tua harus paham tentang apa itu paham ekstrimisme sebenarnya, agar anak kita aman," tegasnya

Setidaknya ada 3 jalur masuknya paham esktrimisme pada lembaga sekolah. Yakni, jalur guru, ekstrakulikuler keagamaan dan kurikulum atau mata pelajaran. Oleh karena iyu, Gus Halim meminta agar sekolah benar-benar mengantisipasi jalur penyebaran paham ekstremisme.

"Guru pendidikan agama Islam juga perlu memberikan pemahaman agar ekstremisme tertolak di benak siswa," tegasnya.

Dalam hal ini, guru memiliki peran penting di sekolah. Di samping dapat menangkal paham ekstremisme, guru juga bisa jadi jalur penyebar paham ekstrimisme.

Selanjutnya, adalah jalur organisasi atau ekstrakurikuler bidang keagamaan. Penyebaran melalui jalur ini bisa bermula melalui pola mentoring yang selama ini diterapkan dan bisa dimanfaatkan pihak tertentu yang ingin menanamkan paham ekstremisme.

"Jalur ketiga adalah pendidikan atau kurikulum. Menurutnya,  ekstremisme bisa saja ditanamkan lewat mata pelajaran selain agama," pungkas Gus Halim

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas