Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Rahasia Jakarta Berhasil Kurangi Angka Kekerasan Perempuan dan Anak

Pelayanan secara gratis bagi korban melalui Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT P2TP2A).

Rahasia Jakarta Berhasil Kurangi Angka Kekerasan Perempuan dan Anak
Ist.
Ilustrasi anak Jakarta. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya menekan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Ibu Kota.

Mulai dari sosialisasi ke masyarakat tentang pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dapat diproses oleh hukum, korban mendapatkan perlindungan, dan masyarakat memiliki kemampuan untuk membantu melakukan pencegahan.

Kemudian diberikannya pelayanan secara gratis  bagi korban melalui Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT P2TP2A) Provinsi DKI Jakarta; serta Pemprov DKI Jakarta yang kini bekerja sama dengan Polda Metro Jaya memberikan pelayanan penanganan korban kekerasan yang terintegrasi dalam aplikasi Jakarta Aman.

Berkat berbagai upaya dan kolaborasi bersama masyarakat tersebut, dalam setahun terakhir, jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak pun berkurang signifikan.

UPT P2TP2A yang menjadi gugus tugas di Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) Provinsi DKI Jakarta merilis data kasus sejak 2018 hingga akhir September 2019.

Dari data tersebut, kasus kekerasan seksual terhadap anak masih mendominasi dibanding kasus lainnya yang ditangani oleh Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) Provinsi DKI Jakarta, yang mana jumlah korbannya menurun.

Tuty mengungkapkan, pada 2018 lalu korban mencapai 910 orang, yang terdiri atas  641 anak perempuan dan 269 anak laki-laki. Angka ini menurun pada periode Januari sampai September 2019.

“Untuk Januari-September 2019, ada 439 anak yang menjadi korban kekerasan. Angka itu terdiri dari 280 anak perempuan dan 159 anak laki-laki,” kata Tuty Kusumawati pada Sabtu (19/10/2019).

Tuty menyebut, anak-anak itu telah mendapatkan tujuh tindakan, di antaranya konseling psikologi, mediasi, pendampingan, konsultasi hukum, pelayanan medis, rujukan rumah aman dan kunjungan rumah.

Jumlah anak yang menjadi korban kekerasan bisa saja bertambah. Apalagi masih ada dua kurun waktu bulan lagi hingga penghujung tahun 2019. Guna menekan potensi kasus kekerasan, pihaknya menggandeng satuan perangkat kerja daerah (SKPD) lain.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas