Tribun Lifestyle
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Yang Penting Diperhatikan untuk Mengetahui Air Minum Berkualitas

Menurut BPS, pada tahun 2019 masih cukup banyak masyarakat yang memanfaatkan sumber air tidak terlindungi dari bakteri.

Yang Penting Diperhatikan untuk Mengetahui Air Minum Berkualitas
Freepik
8 Tanda Anda Terlalu Banyak Minum Air Putih 

Menurut Peneliti Depot Air Minum Isi Ulang, Sri Yusniati I. Sari, saat ini, sekitar 48% dari masyarakat menengah ke bawah di perkotaan menggunakan air kemasan dan isi ulang sebagai cara praktis untuk memenuhi kebutuhan air minum dalam rumah tangganya. Namun, tidak banyak yang memahami perbedaan kualitas air minum yang ada di pasaran.

Akibat laju urbanisasi yang cepat, fenomena air minum isi ulang kian menjamur di perkotaan.

"Pertumbuhan Depot Air Minum (DAM) di DKI Jakarta meningkat hingga 800%, dan didapatkan bahwa banyak air minum isi ulang memiliki kualitas yang rendah, yang mana  sekitar 40% galon isi ulang dan 25,3% keran outlet terdapat bakteri E. coli," ungkap Sri Yusniati I. Sari.

"Masyarakat juga harus lebih berhati-hati karena masih banyak sekali DAM yang tidak resmi dan tidak mematuhi  standardisasi pemerintah. air minum yang jernih dan tidak berasa belum tentu bebas dari bakteri," tambahnya.

Kepedulian terhadap distribusi air minum yang bersih dan berkualitas pun terus digalakkan oleh berbagai pihak terkait, salah satunya adalah Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene (IUWASH).

IUWASH merupakan selaku lembaga non-profit yang mendedikasikan visi dan misinya untuk meningkatkan layanan, penguatan kinerja, dan advokasi di sektor air bersih kepada seluruh masyarakat Indonesia.

“Ada beberapa tantangan untuk menyediakan air layak minum di perkotaan dan salah satunya adalah distribusi air minum bersih yang belum merata, khususnya bagi mereka yang berpenghasilan rendah," ungkap Alifah Sri Lestari, Deputy Chief of Party USAID IUWASH PLUS.  

"Kelompok ini juga dipersulit dengan biaya 'Sambung Baru' PDAM yang cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan opsi layanan akses air layak minum dan terjangkau, seperti sambungan air minum di wilayah perkotaan dengan Master Meter dan SPAM Komunal,” tambahnya.

Namun, melihat infrastruktur dan kondisi pandemi yang belum kunjung pulih, masyarakat diharuskan untuk cepat mengoptimalkan perilaku hidup bersih, baik dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh.

Firdaus Ali menuturkan, selama pandemi COVID-19, masyarakat semakin membutuhkan air bersih untuk dikonsumsi, yang mana telah terjadi peningkatan konsumsi AMDK sebagai alternatif sumber air minum.

Halaman
1234
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas