Tribun Lifestyle

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Disertai Nilai dan Maknanya

sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta nilai dan maknanya. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal

Penulis: Devi Rahma Syafira
Editor: Wahyu Gilang Putranto
Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Disertai Nilai dan Maknanya
Freepik
Maulid Nabi Muhammad SAW 

Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi.

Syekh Ali Jaber bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal dan Syekh Adel Al-Kalbani menyerahkan Alquran Braille digital untuk para tunanetra di Banda Aceh pada acara peringatan maulid Nabi Besar Muhamammad SAW di Balai Kota Banda Aceh, Kamis, 26 Februari 2017.
Syekh Ali Jaber bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal dan Syekh Adel Al-Kalbani menyerahkan Alquran Braille digital untuk para tunanetra di Banda Aceh pada acara peringatan maulid Nabi Besar Muhamammad SAW di Balai Kota Banda Aceh, Kamis, 26 Februari 2017. (Dokumen Humas Pemko Banda Aceh)

Para ulama menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut.

Mereka menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya.

Pada kitab Wafayat, Ibn Khallikan menceritakan jika Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak.

Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, ia melihat Sultan Al-Muzhaffar sangat perhatian terhadap perayaan Maulid Nabi.

Oleh karena itu, Al Hafizh Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid nabi yang diberi judul "Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-nadzir".

Karya tersebut ia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.

Semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga saat ini menganggap jika perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang baik.

Para ulama terkemuka tersebut, yaitu:

- Al-hafizh Ibn Dihyah abad 7 Hijriyah

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas