Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Doa agar Mampu Membayar Utang dan Terhindar dari Azab di Akhirat

Setiap Muslim yang memiliki utang wajib untuk membayarnya. Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa utang yang tidak dilunasi akan dibawa hingga akhirat.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Doa agar Mampu Membayar Utang dan Terhindar dari Azab di Akhirat
Tribunnews.com
DOA MEMBAYAR UTANG - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Jumat (1/5/2026). Setiap Muslim yang memiliki utang wajib untuk membayarnya. Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa utang yang tidak dilunasi akan dibawa hingga akhirat. 

Utang-piutang adalah bagian dari muamalah, sehingga harus dijalankan dengan sikap saling tolong-menolong dan tidak merugikan pihak lain.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim memberi pinjaman kepada Muslim lain dua kali, kecuali seperti bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah)

Azab bagi Orang yang Enggan Membayar Utang

1. Terhalang dari masuk surga secara sempurna

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan terbebas dari kesombongan, pengkhianatan (ghulul), dan utang memiliki peluang besar untuk masuk surga.

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan terbebas dari tiga hal, yakni sombong, ghulul (khianat), dan utang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah)

Hal ini menunjukkan bahwa utang menjadi perkara yang sangat serius dalam Islam. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa seorang yang mati syahid—yang memiliki kedudukan sangat mulia—tetap tidak diampuni dosanya jika masih memiliki utang.

“Seseorang yang mati syahid akan diampuni segala dosa-dosanya, kecuali utang.” (HR. Muslim)

Artinya, utang adalah hak sesama manusia yang tidak bisa dihapus begitu saja, sehingga harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum seseorang mendapatkan kesempurnaan balasan di akhirat.

2. Nasibnya tertahan di akhirat

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam hadis riwayat Ahmad dijelaskan bahwa ruh seorang mukmin akan “tergantung” karena utangnya sampai utang tersebut dilunasi.

Maksudnya, keadaan seseorang di alam setelah kematian tidak sepenuhnya tenang atau bebas sebelum kewajibannya kepada sesama manusia diselesaikan.

“Jiwa (ruh) orang mukmin itu tergantung oleh utangnya sampai utangnya itu dilunasi.” (HR. Ahmad)

Hal ini menjadi peringatan bahwa utang bukan hanya persoalan dunia, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi seseorang di akhirat. 

Oleh karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk segera melunasi utangnya atau memastikan ada yang menyelesaikannya jika ia wafat.

3. Pahala kebaikannya digunakan untuk membayar utang

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang, maka pelunasannya di akhirat akan diambil dari pahala amal kebaikannya.

Pada hari kiamat, ketika harta benda tidak lagi berguna, satu-satunya yang bisa menjadi “alat pembayaran” adalah amal saleh.

“Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan utang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari yang dinar dan dirham tidak berguna lagi.” (HR. Ibnu Majah)

Jika pahala tersebut habis sementara utangnya belum lunas, maka keburukan orang yang ia zalimi bisa dipindahkan kepadanya. 

Ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi menunda atau mengabaikan pembayaran utang, sehingga seorang Muslim harus sangat berhati-hati dan bertanggung jawab dalam urusan ini.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas