Balita Sering Main Gadget Berisiko Obesitas dan Idap Diabetes di Usia Muda
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan keras bagi para orang tua terkait penggunaan gawai pada anak usia dini.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Kebiasaan mengenalkan gawai terlalu dini berisiko besar menghambat berbagai aspek tumbuh kembang anak.
- Tidak hanya membuat anak menjadi pasif dan kurang bergerak, kecanduan layar digital sejak bayi juga dinilai menghambat proses belajar mereka untuk mengenali lingkungan sekitar.
- IDAI mendesak para orang tua untuk lebih bijak dan disiplin dalam membatasi waktu menatap layar (screen time) sesuai dengan fase usia anak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan keras bagi para orang tua terkait penggunaan gawai pada buah hati.
IDAI dengan tegas melarang pemberian akses terhadap layar ponsel maupun tablet bagi anak-anak yang masih berusia di bawah dua tahun.
Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, membeberkan kebiasaan mengenalkan gawai terlalu dini berisiko besar menghambat berbagai aspek tumbuh kembang anak.
Dampak yang paling kentara biasanya menyerang kecakapan anak dalam berkomunikasi serta berinteraksi sosial.
Tidak hanya membuat anak menjadi pasif dan kurang bergerak, kecanduan layar digital sejak bayi juga dinilai menghambat proses belajar mereka untuk mengenali lingkungan sekitar.
Baca juga: Bahaya Kecanduan Gadget Pada Kesehatan Anak, Mata Rabun hingga Ancaman Terpapar Paham Radikal
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial demi menjauhkan anak dari risiko gangguan perkembangan sejak dini.
"Anak usia di bawah dua tahun sebaiknya menerapkan prinsip zero screen time atau tanpa paparan layar sama sekali," kata Piprim di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (15/6/2026).
"Kami mengimbau agar anak di bawah dua tahun harusnya zero screen time," lanjutnya.
Ancaman Speech Delay hingga Virtual Autism
Lebih lanjut, Piprim menjelaskan maraknya fenomena balita yang sudah akrab dengan gawai menjadi salah satu pemicu melonjaknya kasus gangguan perkembangan anak belakangan ini.
"Selain penyakit metabolik, ada juga gangguan perkembangan seperti keterlambatan bicara atau speech delay hingga virtual autism," ujarnya.
Ia menyayangkan sikap sebagian orang tua yang kerap menyalahgunakan gawai sebagai pengasuh elektronik instan, agar anak bisa duduk diam tanpa mengganggu aktivitas orang dewasa.
Menurutnya, jika metode ini terus diterapkan tanpa adanya kontrol ketat, dampak buruk jangka panjang siap mengintai.
"Orangtua seringkali senang anaknya anteng melihat gadget agar mereka bisa asyik sendiri dengan media sosial, padahal itu bisa menyebabkan gangguan perkembangan serius," jelasnya.
Intaian Penyakit Obesitas dan Diabetes Anak
Bukan cuma memicu masalah psikologis dan komunikasi, IDAI juga menaruh perhatian serius terhadap meroketnya kasus penyakit tidak menular pada anak akibat gaya hidup mager (malas bergerak).