Catatan Kecil Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel Usai Tonton Debat Cawapres
Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel punya catatan kecil usai menonton tayangan Debat Kedua Cawapres Pemilu 2024.
Penulis: Yulis
Editor: Theresia Felisiani
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel punya catatan kecil usai menonton tayangan Debat Kedua Cawapres Pemilu 2024.
Untuk diketahui debat Kedua Cawapres Pemilu 2024 diselenggarakan oleh KPU di Jakarta Convention Center, Jumat (22/12/2023) malam.
Menurut Reza Indragiri Amriel satu hari sebelum debat cawapres, dirinya meramal hal positif bagi Gibran yang menurutnya bakal jadi macan panggung.
"Ini catatan kecil saya: Memang sehari sebelum debat cawapres berlangsung saya ramal positif bagi Gibran. Dia, saya katakan, "Bakal menjadi macan panggung."
"Tapi selama debat berlangsung saya merasa ada sesuatu yang "lewat". Karena itu, saya putar ulang tayangan debat cawapres, namun kali ini saya simak dengan mata tertutup," tutur Reza Indragiri Amriel dalam keterangannya, Sabtu (23/12/2023).
Ketika itu Reza Indragiri Amriel hanya fokus pada perkataan para cawapres.
"Di situlah saya temukan hal "lewat" tadi. Sebagai awam yang tidak belajar ekonomi dan sejenisnya, saya justru tidak bisa memahami substansi banyak bagian yang Gibran katakan."
"Intonasinya yang cenderung datar pun membuat kelancarannya dalam berkata-kata terdengar membosankan," imbuhnya.
Pada sisi lain, kosakata dan redaksional Muhaimin lebih bisa diikuti.
"Gelembung-gelembung imajinasi di kepala saya bermunculan jauh lebih banyak di kepala saya ketika menyimak Muhaimin. Sayangnya, mungkin karena bukan ekonom, dia kurang agresif," tuturnya.
"Dari situ, simpulan saya menjadi agak berbeda dengan ramalan saya sebelumnya. Sekarang saya nilai Gibran sangat lancar dalam mengemukakan isi hapalannya. Tapi dia tidak cukup berhasil berkomunikasi dengan awam seperti saya. Padahal, saya adalah rakyatnya," lanjutnya.
Muhaimin, sebaliknya. Sensasi bahwa dia sedang berbincang-bincang dengan saya selaku awam tentang perekonomian terasa lebih kuat. Pada titik itu saya teringat ungkapan tentang kemampuan menyederhanakan hal rumit (ability to simplify).
Bunyinya, "Making the simple complicated is commonplace; making the complicated simple, awesomely simple, that's creativity."
Jadi, coba putar ulang debat cawapres semalam. Pejamkan mata, biarkan telinga terbuka. Macan mana yang mengajak engkau berkelana, dan macan mana yang membuat engkau tersesat di dalam rimba?