Tribun

Pelecehan Seksual

Seorang Pemilik Ponpes di Bogor Diduga Berbuat Cabul Terhadap Santrinya

Ustaz, M, seorang pemilik Pondok Pesantren MA di Bogor, diduga melakukan pelecehan seksual kepada santri

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Johnson Simanjuntak
Seorang Pemilik Ponpes di Bogor Diduga Berbuat Cabul Terhadap Santrinya
NET
ILUSTRASI : Korban pelecehan seksual 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ustaz, M, seorang pemilik Pondok Pesantren MA di Bogor, diduga melakukan pelecehan seksual kepada santri di tempat belajar tersebut. Peristiwa dilakukan di Pondok Pesantren MA di Bogor, Jawa Barat.

Terungkapnya kasus ini berawal dari perselisihan jual-beli rumah antara M dengan seorang TKW berinisial A di Hong Kong. M menjual rumah seharga Rp 1,8 miliar di daerah Ciputat. A menyetujui pembelian rumah itu. Dia sudah membayar sebesar Rp 250 juta.

A pulang ke Indonesia pada libur Hari Raya Idul Fitri 2015, dia melihat kondisi rumah. Dia tertipu karena rumah yang dijanjikan tidak sesuai keinginan. Akhirnya, kejadian dilaporkan ke atase kepolisian KJRI di Hong Kong.

Setelah ditelusuri atase kepolisian KJRI, akhirnya terungkap M telah melakukan sejumlah kejahatan. Selain menipu, dia diduga melakukan pelecehan seksual kepada sejumlah orang.

Amiwan Asa, salah satu TKI yang bekerja di Hong Kong, mengatakan di wilayah itu, M mempunyai organisasi massa berbasis agama yang diberi nama Irsyad. Di ormas itu, M, diduga melakukan perbuatan menyimpang.

"Ada muncul pengakuan korban pelecehan seksual. Korban masih di Hong Kong dia berinisial C berusia 33 tahun," tutur Asa ditemui di Jakarta, Kamis (17/9/2015).

Selain di Hong Kong, M, diduga melakukan pelecehan seksual di Indonesia. Dia menjadikan Pondok Pesantren MA sebagai tempat berbuat mesum. Informasi ini terkuak berdasarkan keterangan orangtua korban.

Orangtua korban menerima informasi berdasarkan keterangan korban. Semula mereka menganggap hal itu sebagai omong kosong, namun, setelah ditelusuri ternyata hal tersebut terbukti kebenarannya.

"Anak yang di sini (Indonesia,-red) melapor ke orangtua. Awalnya orangtua menyepelekan. Ada empat korban. Waktu kejadian, mereka masih di bawah umur. Seluruh korban pernah sekolah di pondok pesantren modern MA," katanya.

Tribunnews berusaha mengkonfirmasi nomor selulur milik MA. Namun telepon tidak bisa dihubungi. SMS yang dikirim Tribun juga tidak dibalas.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas