Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengelola SARA Menjadi Energi Perbaiki Kondisi Bangsa

Konflik Suku, Agama dan Ras (SARA) menjadi potensi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia jika dikelola dengan baik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat
zoom-in Mengelola SARA Menjadi Energi Perbaiki Kondisi Bangsa
ISTIMEWA
Pilkada Damai Tanpa SARA" yang digelar DPD TMP DKI Jakarta di Gedung Joang 45 Menteng, Minggu (16/10/2016) kemarin. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-  Konflik Suku, Agama dan Ras (SARA) menjadi  potensi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia jika dikelola dengan baik.

Namun, bila potensi tersebut disalahgunakan maka akan memecahbelah persatuan bangsa.

Demikian disampaikan Jerry Sumampouw perwakilan Persatuan Gereja- Gereja Indonesia (PGI) pada acara diskusi Kebangsaan dengan tema "Pilkada Damai Tanpa SARA" yang digelar DPD TMP DKI Jakarta di Gedung Joang 45 Menteng, Minggu (16/10/2016) kemarin.

Menurutnya ajang pilkada ini menjadi tantangan bagaimana peristiwa politik ini mampu menyatukan dan memperbaiki kehidupan bangsa yang makin terpuruk. Bukan sebaliknya.

"Kita sebagai elemen bangsa harusnya mengelola SARA menjadi energi yang memperbaiki kondisi bangsa. Kalau salah mengelola SARA maka akan memperburuk nasib NKRI," katanya.

Oleh karena itu Pilkada seharusnya menjadi momentum mengelola SARA untuk memperkuat dan memperkokoh tiang-tiang kebangsaan.

Jika hal tersebut terwujud maka kemajemukan yang ada akan memperkuat sendi-sendi kebangsaan.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal yang senada juga disampaikan Nengah perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, sehingga SARA merupakan sebuah keniscayaan.

Ia berharap, ditanamkan dalam benak hati nurani anak bangsa adalah semangat persaudaraan . Jika semangat ini terus digelorakan maka potensi konflik pada pilkada tidak akan terjadi.

Baginya yang paling terpenting dalam gelaran pilkada adalah mampu melahirkan sosok pemimpin yang mampu menerangi masyarakatnya dari kekelapan.

Pemimpin yang tangguh dalam menghadapi masalah dan pemimpin yang bijak, katanya lagi, dalam membuat sebuah kebijakan untuk warganya.

"Agama kita mengajarkan kedamaian,"ucapnya.

Sementara itu, Liliana Pontoh Perwakilan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) menegaskan bahwa hasil dari gelaran pilkada yang dibutuhkan masyarakat adalah melahirkan pemimpin. Pemimpin  yang bisa bersikap baik kepada rakyatnya dengan menegakkan keadilan.

Selian itu pemimpin harus juga menciptakan kerukunan umat beragama.

"Jangan ada saling menyakiti maka pilkada ini akan berjalan damai. Karena semua agama mengajarkan cinta kasih," harapnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas