Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tempe-Tahu Langka, Tukang Sayur Jadi Sasaran Amarah Ibu-ibu

Mahalnya harga kedelai, membuat para perajin tahu dan tempe melakukan mogok massal dan tidak berproduksi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Wahyu Aji

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mahalnya harga kedelai, membuat para perajin tahu dan tempe melakukan mogok massal dan tidak berproduksi. Hal ini membuat pedagang sayur keliling seperti Yanto (52) tak lagi menjual panganan asli Indonesia tersebut.

"Di pasarnya emang sudah enggak ada yang jual lagi. Ibu-ibu langganan masih banyak yang nggak tau, jadi ada yang ngga percaya kalau tempe, tahu itu ngga ada di pasar," ujar tukang sayur yang biasa keliling di kawasan Condet, Batuampar, Jakarta Timur kepada Tribunnews.com, Rabu (25/7/2012).

'Pak Kumis' sapaan akrab Yanto yang lebih dikenal ibu rumah tangga yang menjadi langganannya pun protes akibat hilangnya tahu dan tempe. Menurut pengakuan Kumis ibu-ibu lebih tahu dan tempe karena harganya yang murah.

"Kata pedagang di pasar induk si harga kedelai naik dari Rp 5.000 jadi Rp 8.000 per kilogram, saya ngga tau juga kenapa jadi langka mas," katanya.

Diberitakan, aksi mogok perajin tempe di wilayah Jabodetabek, Banten, Bogor, dan Bandung dilakukan sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas lonjakan harga kedelai yang cukup tinggi saat ini.

Hingga akhir pekan kemarin harga kedelai untuk perajin mencapai Rp 8.000 per kilogram. Padahal sebelumnya berada di kisaran Rp 5.500 per kilo gram.

Angka itu terus naik setiap pekan seiring dengan masuknya Ramadan. Ia menyatakan aksi turun ke jalan pernah dilakukan perajin pada 2008 lalu. Ketika itu mereka meminta pemerintah melakukan swasembada kedelai.

Pasalnya, hingga kini produksi kedelai dalam negeri tidak memadai. Produksi kedelai lokal mencapai 600-900 ribu ton, jauh dari kebutuhan nasional di kisaran 2,3-2,4 juta ton per tahun.

Meroketnya harga kedelai, disebabkan oleh naiknya bea masuk kacang kedelai hingga 7,5 persen. Akibatnya harga jual ke masyarakat lebih mahal. Namun sebenarnya pasokan kedelai untuk petani terbilang aman.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas