Bertemu Guru, Jusuf Kalla Selalu Terima Keluhan dan Permasalahan Baru
Ia mengakui bahwa kesejahteraan para guru dan tenaga pendidik lainnya adalah suatu hal yang penting untuk diperjuangkan.
Editor: Wahid Nurdin
Laporan Wartawan TRIBUNnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setiap kali disambangi organisasi guru seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengaku selalu disuguhkan keluhan dan kabar buruk.
Salah satu yang selalu dikeluhkan, adalah masalah kesejahteraan.
"Kalau saya ketemu guru, kadangkala PGRI, yang selalu muncul itu seperti kesusahan baru, tidak pernah muncul hal yang gembira, selalu susah," ujar Jusuf Kalla dalam pemaparannya di hadapan sejumlah pimpinan perguruan tinggi, di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat, Rabu (8/9/2016).
Ia mengingat ketika tahun lalu memberikan sambutan di hadapan guru-guru PGRI, setiap kali ia memaparkan soal hal-hal yang berbau akademis, para guru terebut hanya diam.
Namun ketika disinggung soal kesejahteraan, sontak guru-guru tersebut langsung bersorak dan bertepuk tangan.
"Jadi saya prihatin juga di situ, perhatian kepada guru sudah mulai berbeda. Guru lebih pragmatis," ujarnya.
Ia mengakui bahwa kesejahteraan para guru dan tenaga pendidik lainnya adalah suatu hal yang penting untuk diperjuangkan.
Namun ia juga mengingatkan, bahwa saat ini penghasilan guru sudah relatif lebih tinggi dari profesi-profesi lainnya.
"Secara umum pendapatan guru sudah jauh lebih tinggi daripada pendapatan profesi lainnya, tapi tetap saja masih saja susah," terangnya.
Anggaran untuk pendidikan dari pemerintah pun tidak bisa dikatakan sedikit, yakni 20 persen dari APBN. Dari seluruh negara yang ada di dunia, cuma Indonesia, Taiwan dan sejumlah negara di Amerika Selatan yang menerapkan kebijakan serupa.
Ia mengingatkan, masalah pendidikan bukan hanya masalah kesejahteraan tenaga pendidik, masalah mutu pendidikan juga harus diselesaikan. Sedangkan pendidikan di Indonesia mutunya termasuk lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
Jusuf Kalla mengaku tahu hal itu, karena pernah meminta seorang menteri untuk menyambangi negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Filipina untuk mencari tahu seberapa sulit ujian di negara-negara tersebut. Akhirnya diketahui bahwa mutu pendidikan Indonesia masih tertinggal.
"Ujian matematika (tingkat) SD di Singapura, sama dengan ujian akhir SMI kita, kita sudah ketinggalan tiga tahun," tegasnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.