Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Setara Institute Sebut MCA Tak Sama dengan Saracen

Satgas Nusantara menyebut jika kelompok Muslim Cyber Army (MCA) memiliki koneksi atau garis merah pada kelompok Saracen.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Setara Institute Sebut MCA Tak Sama dengan Saracen
Warta Kota/Henry Lopulalan
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran (tengah) didampingi Kasubdit 1 Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar (kanan) dan Analis Kebijakan (Anjak) Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo (kiri) saat rilid tersangka sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial yang berhasil di ungkapTim Siber Bareskrim Mabes Polri , Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). Direktorat Tindak Pidana (Dirtipid) Siber Bareskrim Polri menangkap enam orang yang tergabung dalam grup WhatsApp The Family Muslim Cyber Army (MCA) dan tersangka kasus ujaran kebencian/SARA serta kasus yang diselesaikan secara restorative Justic. (Warta Kota/Henry Lopulalan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Satgas Nusantara menyebut jika kelompok Muslim Cyber Army (MCA) memiliki koneksi atau garis merah pada kelompok Saracen.

Meski begitu, Ketua SETARA Institute Hendardi mengatakan MCA berbeda dan tak sama dengan kelompok Saracen.

Ia menilai personel dan pola pergerakan MCA lebih ideologis dari Saracen.

"Melihat personel dan pola gerakannya, MCA ini berbeda dengan Saracen. MCA tampak lebih ideologis, memiliki kelompok dan sub ribuan di sebaran wilayah Indonesia," ujar Hendardi, di Rupatama Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/3/2018).

Baca: Polri Temukan Koneksi Antara MCA dan Saracen

Akibat dari dua hal yang berbeda itu, Hendardi mengatakan jika MCA lebih berbahaya dan terorganisasi.

Apalagi kelompok penyebar hoax itu memiliki agen di seluruh Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

"Oleh karena itu, daya merusak kelompok ini lebih besar dari Saracen," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengecam semua kelompok yang memproduksi berita bohong, lantaran itu sangat berbahaya bagi persatuan bangsa.

Menurutnya, Indonesia memasuki tahun dimana masyarakatnya rawan dipecah-belah akibat datangnya tahun politik.

"Praktik semacam ini bukan hanya membahayakan kontestasi politik, tapi membelah pro dan kontra masyarakat, dan membahayakan bagi kohesi sosial kita. Berdampak pada disharmoni sosial," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas