Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Proses Panjang Membuat Duplikat Bendera Pusaka, Diwarnai Hujan Tangis

Bendera pusaka asli sekarang sudah tidak dapat dikibarkan lagi karena sudah terlalu tua. Sebagai gantinya dibuat Duplikat Bendera Pusaka.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Proses Panjang Membuat Duplikat Bendera Pusaka, Diwarnai Hujan Tangis
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Seorang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Jawa Barat mencium bendera merah putih pada upacara pengukuhan di Gedung Sate, Jalan Dipenogoro, Kota Bandung, Rabu (15/8/2018). Pada acara tersebut, Pejabat Gubernur Jawa Barat, M Iriawan mengukuhkan 36 Paskibraka Jawa Barat mewakili 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang akan bertugas mengibarkan bendera merah putih pada Upacara Peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Gasibu, pada 17 Agustus 2018. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM - Bendera pusaka asli sekarang sudah tidak dapat dikibarkan lagi karena sudah terlalu tua.

Sebagai gantinya dibuat Duplikat Bendera Pusaka.

Ternyata membuat duplikat tidak semudah yang dibayangkan orang.

M. Dip. S. pernah mengisahkan liku-liku pembuatannya dalam Intisari November 1971.

Bagaimana perjalanan panjang proses pembuatannya? Begini penjelasannya

Perlu survei

Ide pertama adalah dari bapak Presiden Suharto yang melalui Departemen Perindustrian menginstruksikan kepada Institut Tekhologi Tekstil di Bandung untuk melaksanakannya.

Rekomendasi Untuk Anda

Itu terjadi pada bulan September 1968 dan harus dapat selesai untuk dikibarkan pada peringatan 17 Agustus tahun berikutnya.

Kalau soal benderanya memang tidak kelihatan adanya keanehan tetapi karena ketentuan yang harus dipenuhi menyebabkan kami harus bekerja dengan hati-hati.

Survei segera diadakan untuk mendapatkan bahan baku yang harus Sutera Alam dari Indonesia sendiri dan mesin yang akan dipakai untuk itu, sebab pada saat itu I.T.T. belum memiliki mesin tenun khusus untuk benang-benang filamen.

Harus ada orang tidur di bawah mesin

Warna merah dan putih dari bendera tidak boleh disambung dengan cara djahit. Ini merupakan ketentuan yang unik yang harus dilaksanakan.

Percobaan segera dilakukan dengan bahan kapas dan kedua dengan bahan rayon yang mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Sutera.

Dari pengalaman itu ternyata pelaksanaannya tidaklah semudah yang kami perkirakan sebelumnya, sebab bagi tukang tenun dengan dibuatnya dua lembar kain dalam satu mesin sekaligus sukar dapat mengontrol defect (kesalahan tenun) yang berada di lembar kain bawah.

Akhirnya dengan terpaksa maka diputuskannya bahwa tukang tenun dibantu oleh orang yang harus tidur di bawah mesin untuk mengawasi kain bawah.

Baca: Besok Bertugas, Ini Fakta-Fakta Paskibraka, Ada Hukumannya Jika Bendera yang Dikibarkan Terbalik

Sumber: Intisari
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas