Tribun

Gempa di Lombok

Gempa Lombok, BNPB : Masyarakat Berkumpul di Lapangan dan Rasakan Trauma

Gempa tersebut dijelaskan Sutopo, dirasakan di Sumbawa besar, Sumbawa Barat, Bali, Jawa Timur bagian Timur, hingga Makassar Sulawesi Selatan.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Gempa Lombok, BNPB : Masyarakat Berkumpul di Lapangan dan Rasakan Trauma
KOMPAS.com/JESSI CARINA
Para tamu hotel di Aston Inn, Mataram, Lombok, berhamburan keluar setelah gempa bermagnitudo 7 mengguncang Lombok dan sekitarnya, Minggu (19/8/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kepala Pusat Data Humas Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) Sutopo mengatakan kondisi masyarakat di Lombok Timur masih trauma akibat gempa yang terjadi pada Minggu (19/8/2018) malam.

BMKG menyatakan gempa yang terjadi sekitar pukul 21.56 WIB memiliki kekuatan 6,9 SR.

"Masyarakat masih bekumpul di lapangan dan di tempat-tempat yang aman dan masyarakat sampai saat ini masih merasakan trauma mendalam terkait guncangan gempa dan gempa-gempa susulan," kata Sutopo dalam siaran live di Kompastv, Senin (20/8/2018).

Baca: Kapolri Resmi Lantik 6 Kapolda, Mulai Sumut, Kepri, hingga Papua

Gempa tersebut dijelaskan Sutopo, dirasakan di Sumbawa besar, Sumbawa Barat, Bali, Jawa Timur bagian Timur, hingga Makassar Sulawesi Selatan.

Namun sampai kini, BNPB belum mendapatkan informasi pasti terkait korban jiwa dan kerusakan karena terkendala listrik dan komunikasi yang terputus.

"Kondisi gelap gulita, komunikasi putus sehingga kami kesulitan memperoleh update dampak gempa dan pihak PLN sudah menjelaskan masih dalam proses perbaikan," terangnya.

Sutopo menerangkan, Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainal Majdi memberikan 3 imbauan kepada masyarakat di Lombok Timur dan sekitarnya dalam menghadapi bencana ini.

Ia mengatakan Gubernur NTB meminta masyarakat agar tetap tenang, waspada serta mentaati 3 imbauan.

Pertama, masyarakat diminta agar menjauhi perbukitan, karena diperkirakan terjadi longsoran dari perbukitan maupun lereng-lereng Gunung Rinjani akibat guncangan gempa.

"Kemudian imbauan berikutnya adalah masyarakat menjauhi bangunan dan rumah yang tidak memenuhi standar keamanan. Serta aktivitas pendidikan pada berbagai tingkat akan diliburkan sampai batas yang ditentukan kemudian," ujar Sutopo.

BMKG dalam siaran pers yang diterima Tribun, menyatakan hingga tanggal 20 Agustus 2018 pukul 01.25 WITA, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 22 aktivitas gempa susulan (aftershock), diantaranya 3 gempabumi dirasakan.

"Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," ujar Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas